Pengamat Sarankan Prabowo Stop Berpidato: Agar Petani dan Pengupas Bawang Tak Lagi Jadi Korban ‘Omon-Omon’!

DEMOCRAZY.IDPengamat Kebijakan Publik, Gigin Praginanto kembali melontarkan pernyataan pedas terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Kali ini, Gigin menyinggung kebiasaan Presiden Prabowo menyampaikan pidato serta respons pemerintah dalam menghadapi persoalan dan bencana yang terjadi di sejumlah daerah.

Dikatakan Gigin, salah satu harapan terbesar publik saat ini justru agar Prabowo tidak lagi banyak berpidato.

“Salah satu harapan terpenting yang perlu diungkapkan hari ini adalah dia (Presiden Prabowo Subianto) tidak berpidato lagi,” ujar Gigin, Kamis (20/8/2026).

Singgung ‘Omon-omon’ Presiden

Gigin menuturkan bahwa pidato yang tidak sesuai dengan realita justru berpotensi membuat masyarakat menjadi korban.

Ia secara khusus menyinggung kelompok masyarakat seperti anak-anak, petani, hingga pekerja yang telah menjadi korban dari apa yang ia sebut sebagai pidato ‘omon-omon’.

“Agar tidak ada lagi bocah 10 tahun, petani, dan pengupas bawang menjadi korban omon-omon yang merendahkan derajat mereka,” ucapnya.

Gigin merujuk pada berbagai pidato Presiden Prabowo yang menurutnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Kesannya, hanya mengutarakan hasil laporan ‘Asal Bapak Senang’ dari anak buahnya.

Tagih Respons Prabowo soal Gempa NTT

Selain persoalan pidato, Gigin juga menyentil kehadiran Presiden dalam penanganan bencana.

Ia mempertanyakan keberadaan Prabowo ketika gempa terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Gayanya aja seperti patriot. Ada gempa di NTT gak muncul. Presiden kemana woi!,” tegas Gigin.

Baginya, kondisi tersebut dapat membuat masyarakat terdampak bencana tidak lagi berharap Presiden datang secara langsung ke lokasi.

“Gak aneh bila para korban bencana di NTT tidak berharap kedatangan presiden,” jelasnya.

Gigin kemudian membandingkan kondisi korban bencana di NTT dengan korban bencana di Sumatra.

Ia mengatakan masyarakat terdampak di NTT mungkin tidak ingin mengalami kondisi seperti korban bencana di Sumatra yang menurutnya telah bertahun-tahun tinggal di tenda darurat.

“Mereka tidak mau seperti korban bencana di Sumatra yang sudah bertahun-tahun hidup di tenda darurat,” tandasnya.

Gigin juga menyinggung kebijakan pemerintah terkait bantuan asing untuk penanganan bencana.

Ia bilang bahwa keputusan Presiden Prabowo menolak bantuan asing serta kehadirannya di lokasi bencana justru menimbulkan persoalan tersendiri.

“Karena presiden menolak bantuan asing dan hadir seperti turis yang merepotkan para korban,” kuncinya.

Sebelumnya, Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hilmi Firdausi, mengatakan kesalahan dalam berbicara di depan publik memang bisa saja terjadi.

Terutama bagi seseorang yang memiliki intensitas tinggi dalam menyampaikan gagasan.

Namun, kata Gus Hilmi, persoalannya menjadi berbeda apabila kekeliruan tersebut terjadi berulang kali.

Ia pun mengingatkan pentingnya introspeksi bagi seorang pembicara agar kualitas komunikasi publik terus diperbaiki.

Ia menyebut dirinya terbiasa berdakwah, mengisi seminar hingga menjadi narasumber di berbagai forum, sehingga memahami bahwa kesalahan dalam menyampaikan sesuatu merupakan hal yang mungkin terjadi.

“Saya ini pendakwah, pengisi seminar, dosen tamu, pengisi acara diskusi juga di TV,” ujar Gus Hilmi, Senin (17/8/2026).

Gus Hilmi menegaskan, salah ucap atau slip of tongue tidak selalu harus dipandang sebagai persoalan besar apabila hanya terjadi sesekali.

“Jadi slip tounge sekali dua kali itu hal yang lumrah,” ucapnya.

Minta Pembicara Introspeksi

Meski demikian, Gus Hilmi menilai kondisi berbeda ketika kesalahan dalam menyampaikan informasi terus berulang dalam berbagai kesempatan.

Ia mengatakan pembicara yang kerap mengalami hal tersebut perlu mengevaluasi cara menyampaikan informasi kepada publik.

“Tapi kalau tiap kali bicara di publik selalu terulang, artinya kita selaku pembicara harus introspeksi diri,” tukasnya.

Gus Hilmi kemudian menekankan pentingnya upaya memperbaiki kemampuan komunikasi agar pesan yang disampaikan kepada masyarakat dapat lebih akurat dan tidak menimbulkan polemik.

“Berusaha memperbaiki kualitas public speaking kita ke depan,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya