Dugaan Konspirasi Skenario Solo: Guru Besar Unair Curiga Prabowo Sengaja ‘Dibuat Lemah’ Agar Tak Tuntas Memerintah Hingga 2029!

DEMOCRAZY.ID — Apakah Presiden Prabowo Subianto sengaja dikondisikan untuk gagal dan lengser sebelum masa jabatannya berakhir pada 2029?

Pertanyaan sangat tajam ini dilemparkan oleh Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof.

Henri Subiakto, saat membedah dinamika politik nasional yang kian memanas akibat pertarungan sengit di lingkaran dalam kekuasaan (war within).

Henri membongkar dugaan adanya skenario politik jahat dari kekuatan oligarki lama yang sejak awal merancang pemerintahan Prabowo berada dalam posisi rentan, digerogoti dari dalam, hingga kehilangan legitimasi publik di tengah kehancuran ekonomi dan skandal ijazah bodong sang Wapres, Gibran Rakabuming Raka.

Pertarungan Berdarah di Lingkaran Utama Istana

Henri menggambarkan bahwa situasi pemerintahan saat ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan biasa, melainkan panggung “war within”—sebuah perang dingin di internal elite yang belum usai.

Prabowo disinyalir tengah dijebak oleh jejaring rezim lama agar tampak lemah, tidak kompeten, dan berada di bawah kualifikasi pendahulunya, Joko Widodo.

Pemerintahan yang dibuat pincang dan penuh dinamika kompromi ini sengaja didesain agar mudah diintervensi dan ditarik ulur oleh faksi-faksi politik tertentu.

“Apakah terpilihnya Prabowo pada Pilpres 2024 dikalkulasikan oleh kekuatan tertentu yang menghendaki pemerintahannya tidak berjalan optimal, bahkan berpotensi tumbang sebelum 2029? Ini adalah pertarungan di dalam lingkaran kekuasaan yang belum selesai,” tegas Henri Subiakto, Ahad (18/10/2026).

Naluri Sang Jenderal: Jangan Mau Dijadikan Presiden Boneka!

Kendati dikepung oleh skenario pelemahan dari dalam, Henri mengingatkan agar faksi-faksi penggembos tidak meremehkan sosok Prabowo Subianto.

Sebagai mantan jenderal militer dengan rekam jejak tempur dan politik yang panjang, Prabowo dinilai memiliki naluri bertahan hidup yang sangat kuat.

Prabowo diprediksi tidak akan tinggal diam menjadi sasaran empuk.

Konsolidasi kekuatan, pembersihan perwira loyalis dinasti Solo di TNI-Polri, hingga penataan ulang kabinet merupakan bentuk balasan dari Prabowo untuk menggeser parasit-parasit politik yang menyandera pemerintahannya.

Momentum Putusan MK: Pintu Masuk Menyingkirkan Beban Dinasti!

Henri menyoroti dinamika amar Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai skandal dokumen pendidikan Gibran sebagai pintu masuk emas (golden opportunity) bagi Prabowo untuk melakukan manuver pembersihan total.

Terbongkarnya fakta bahwa Gibran tidak memiliki bukti fisik ijazah SMA/sederajat yang valid di MK harus dimanfaatkan Presiden untuk mengambil keputusan politik yang tegas.

Mempertahankan wakil presiden yang cacat hukum dan dibenci publik hanya akan mempercepat kebangkrutan rezim.

Tantangan Ganda: Melawan Musuh Dalam Selimut & Gelombang Amuk Rakyat

Kini Presiden Prabowo dihadapkan pada dua medan tempur yang sangat mematikan:

  1. Musuh Dalam Selimut: Kelompok elite lama yang menyusup di birokrasi dan kabinet untuk melemahkan otoritas Presiden dari dalam.

  2. Kekecewaan Organik Rakyat: Amuk massa akibat himpitan krisis ekonomi, hilangnya lapangan kerja, anjloknya daya beli, dan kemarahan atas manipulasi etika bernegara.

Jika Prabowo ragu-ragu dan terlambat mengeksekusi “Tsunami Politik” untuk mencopot Gibran serta membersihkan loyalis Jokowi, kekecewaan rakyat akan melebur menjadi gelombang revolusi politik yang siap melumat Istana.

Pertanyaan besarnya kini: Mampukah Prabowo membuktikan dirinya sebagai Jenderal sejati yang berani melibas musuh di dalam selimut, ataukah ia rela membiarkan dirinya menjadi korban skenario pelengseran sebelum 2029?

Artikel terkait lainnya