Upload SKCK Prabowo di Media Sosial, Netizen Ini Langsung Kena Rentetan Teror Telepon Misterius!

DEMOCRAZY.ID — Ruang kebebasan berpendapat di dunia maya kembali tercoreng oleh aksi teror psikologis yang menyasar warganet kritis.

Belum reda perdebatan seputar dinamika politik tingkat tinggi, publik kini dihebohkan dengan teror nyata yang dialami oleh seorang pengguna media sosial X (Twitter) berakun @sibambaang.

Kengerian tersebut bermula setelah akun yang bersangkutan mengunggah dokumen Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) milik Prabowo Subianto yang pernah digunakan sebagai salah satu persyaratan administratif pendaftaran calon presiden.

Alih-alih menjadi diskursus publik yang wajar di negara demokrasi, unggahan yang sempat menembus angka 170 ribu penonton (views) itu justru berujung pada ancaman langsung dan teror telepon bertubi-tubi dari pihak misterius.

Teror Telepon dan Intimidasi ala “Debt Collector”

Melalui utas curhatannya di X, pemilik akun @sibambaang membeberkan kronologi saat dirinya mendadak diserang gelombang panggilan telepon tak dikenal yang masuk secara beruntun ke nomor WhatsApp pribadi maupun nomor WhatsApp bisnis miliknya.

Ketika panggilan tersebut akhirnya diangkat, suara seorang pria dengan nada mengintimidasi langsung melontarkan bentakan dan menuntut agar unggahan dokumen SKCK tersebut segera dihapus.

“Habis dispam telfon nomor tidak dikenal beberapa kali. Pas iseng saya angkat, suara laki-laki seperti debt collector menyebut nama saya dan agak membentak: ‘Maksudnya apa posting SKCK itu? Hapus segera mas. Hapus ya.’” tulis akun tersebut.

Sontak, kejadian itu membuat sang pemilik akun terkejut sekaligus mempertanyakan celah keamanan data pribadi di ruang digital.

Terlebih, para terorist tersebut tidak hanya mengetahui satu nomor kontak, melainkan berhasil membidik dua nomor berbeda—pribadi dan bisnis—dalam waktu bersamaan hanya berselang beberapa jam setelah postingan itu viral.

“Saya hanya diam mendengarkan. Lalu saya sadar saya tadi siang post penampakan SKCK Prabowo. Tidak hanya telfon ke nomor WA pribadi saya saja tapi juga WA bisnis saya. Kok bisa dapet 2 nomor WA saya sekaligus? Apa masalahnya? Kenapa gak boleh post?” keluhnya.

Karena merasa terancam dan lelah menghadapi teror bertubi-tubi, pemilik akun akhirnya memilih menghapus unggahan tersebut.

Namun, insiden ini meninggalkan tanda tanya besar di benak publik mengenai tingkat privasi data warga negara serta kecepatan mesin kekuasaan dalam merespons kritik sekecil apa pun di media sosial.

“Ternyata ada teknologi melacak nomor lengkap hape hanya modal sosmed ya? Kenapa lama banget nangkap koruptor buron,” sindirnya telak.

Pertanyaan Besar di Balik Kerahasiaan Dokumen Publik

Kasus teror yang dialami warganet ini kembali membuka kotak Pandora mengenai sensitivitas informasi dan ketakutan akut para pendukung kekuasaan terhadap dokumen-dokumen administratif yang sejatinya bersifat publik.

Publik kini justru balik bertanya-tanya: Ada apa di balik dokumen SKCK tersebut hingga aparat bayangan atau pihak tak dikenal begitu reaktif dan panik ketika warganet membagikannya ke ruang publik?

Ketika teror intimidasi justru jauh lebih cepat bergerak memburu warganet ketimbang aparat penegak hukum memburu para buronan koruptor kakap, cermin penegakan hukum di negeri ini lagi-lagi diuji di hadapan mata rakyat.

Artikel terkait lainnya