Pengamat Kritik Presiden: Saya Tidak Melihat Prabowo Tumbuh Secara Intelektual!

DEMOCRAZY.ID – Pemikir kebinekaan, Sukidi, berbicara mengenai kualitas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam bidang pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Menurut Sukidi, memiliki banyak koleksi buku tidak serta-merta mencerminkan pertumbuhan intelektual seorang pemimpin.

Ia menekankan bahwa persoalan mendasar Indonesia saat ini justru terletak pada kualitas pendidikan yang masih tertinggal dibandingkan banyak negara, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Prabowo Dinilai Tidak Tumbuh Secara Intelektual

Secara blak-blakan, Sukidi mengaku tidak melihat adanya perkembangan intelektual yang signifikan pada diri Presiden Prabowo.

“Saya tidak melihat bahwa Presiden tumbuh secara intelektual,” ujar Sukidi, Senin (27/7/2026).

Ia menegaskan, banyaknya buku yang dimiliki seseorang bukanlah ukuran bahwa orang tersebut mengalami pertumbuhan intelektual.

“(Memiliki banyak buku) itu tidak menandakan dia mempunyai pertumbuhan secara intelektual,” ucapnya.

Lebih lanjut, Sukidi menilai sektor pendidikan menjadi akar dari berbagai persoalan bangsa.

Ia menyebut Indonesia masih tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Saya melihat bahwa masalah terbesar kita itu adalah pada aspek pendidikan. Karena kita menyadari bahwa pendidikan kita itu jauh tertinggal,” tuturnya.

Menurutnya, ketertinggalan tersebut paling terlihat pada bidang sains, teknologi, teknik (engineering), dan matematika (STEM).

“Terutama pada sains, teknologi, engineering, dan math itu sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat Indonesia bukan hanya tertinggal dari negara-negara maju, tetapi juga kalah bersaing dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

“Dan ini terbukti bahwa kita bukan hanya tertinggal jauh dari dunia, tapi juga tertinggal bahkan dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara sekalipun,” imbuhnya.

SDM Indonesia Sulit Bersaing

Sukidi menilai rendahnya kualitas pendidikan berdampak langsung terhadap daya saing tenaga kerja Indonesia.

Menurutnya, sebagian besar lulusan pendidikan menengah masih masuk kategori tenaga kerja yang belum memiliki keterampilan memadai.

“Karena itu, ketertinggalan pada dunia pendidikan mengakibatkan bahwa human capital kita, modal manusia yang akhirnya tersebar di pasar, itu tak lebih dari mereka,” kata Sukidi.

“Terutama lulusan SMP dan SMA. Jadi lulusan-lulusan yang memang unskilled labor,” tambahnya.

Ia juga menyinggung lemahnya penguasaan bahasa Inggris yang membuat tenaga kerja Indonesia semakin sulit bersaing di tingkat regional.

“Dan itu membuat mereka tidak bisa kompetitif, apalagi dari aspek penguasaan bahasa Inggris jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara. Itu pada pendidikan,” imbuhnya.

MBG Dinilai Tidak Berkorelasi dengan Kemakmuran Bangsa

Lebih jauh, Sukidi menekankan bahwa kemajuan pendidikan berkaitan erat dengan kecerdasan dan kesejahteraan suatu bangsa.

Baca Juga:
Denny Indrayana Kembali Kirim Surat Terbuka ke Prabowo, Sebut Kasus Febrie Adriansyah Harus Bongkar Akar Korupsi
“Dan pendidikan itu menandai kemajuan satu bangsa. Apalagi kalau dilihat dari kecerdasan kita, yang memang amat sangat tertinggal,” terangnya.

“Dan kecerdasan itu juga berkorelasi positif dengan kemakmuran satu bangsa,” sambungnya.

Karena itu, ia mengaku belum melihat adanya pembenahan yang serius di sektor pendidikan.

Sukidi juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menurutnya tidak memiliki hubungan langsung dengan kemakmuran suatu negara.

“Saya tidak melihat bahwa aspek pendidikan ini diperbaiki dengan baik. Dan itu tidak ada teori di dunia mana pun bahwa MBG itu berkorelasi dengan kemakmuran satu bangsa,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya