DEMOCRAZY.ID — Peta koalisi partai politik menjelang Pemilihan Presiden 2029 mulai diuji dalam kalkulasi-kalkulasi strategis.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai bahwa Partai Golkar dipastikan bakal memasang badan di barisan Presiden Prabowo Subianto alih-alih merapat ke kubu Joko Widodo, seandainya skenario perpecahan antara faksi Hambalang dan faksi Solo benar-benar terjadi di masa mendatang.
Menurut Dedi, konstelasi internal Partai Golkar saat ini tidak memungkinkan partai berlambang pohon beringin tersebut untuk mengambil langkah spekulatif di luar gerbong kekuasaan petahana.
Mengingat krisis kader yang memiliki daya tawar mandiri untuk diusung sebagai calon presiden utama, Golkar diprediksi akan realistis mengamankan posisi aman di lingkaran kekuasaan Prabowo.
“Peluang terbesarnya tetap bersama Prabowo. Golkar sepertinya kesulitan untuk mendorong cawapres sekali pun,” kata Dedi melalui layanan pesan, Jumat (11/9/2026).
Dedi mengingatkan bahwa corak dan watak politik Partai Golkar selama dua dekade terakhir selalu konsisten menempatkan diri di dalam lingkaran kekuasaan pemerintah yang sah, apapun bendera koalisinya.
Atas dasar pragmatisme kekuasaan tersebut, ia memandang peluang Golkar untuk bergeser memihak poros Solo atau kubu Jokowi sangatlah kecil, kecuali jika hubungan harmonis antara Hambalang dan Solo masih terjaga utuh.
“Kemungkinannya kecil berpihak ke Jokowi. Kecuali, Solo masih mendukung Prabowo,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dedi menganalisis bahwa poros utama penentu arah permainan menuju Pilpres 2029 masih akan dipegang oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Partai Gerindra sebagai motor penggerak.
Sementara itu, faksi-faksi politik lain diprediksi mulai menyusun barisan, termasuk Partai Demokrat yang berpotensi memimpin faksi tandingan, serta Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang nasibnya sangat bergantung pada ambang batas parlemen.
Di sisi lain, posisi politik mantan Presiden Joko Widodo dibaca tidak lagi memegang kendali penuh sebagai episentrum kekuasaan inti, melainkan beralih menjadi pemain bayangan yang mengamati situasi dari jauh.
“Jokowi mungkin punya strategi. Namun, dia bukan tokoh inti kekuasaan. Dia di posisi wait and see,” pungkas Dedi.