DEMOCRAZY.ID – Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti memprediksi soliditas koalisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai diuji menjelang Pemilihan Presiden 2029.
Menurut Ray, ketegangan di antara partai-partai pendukung Prabowo berpotensi mulai terlihat pada 2027.
Setahun kemudian, ia memperkirakan ada partai yang meninggalkan koalisi pemerintahan.
Ray mengatakan dinamika tersebut tidak terlepas dari manuver sejumlah poros politik yang berada di sekitar kekuasaan.
“Saya sudah berulang kali mengatakan bahwa pada akhirnya pemerintahan Pak Prabowo ini akan disibukkan oleh tingkah laku dari anggota koalisinya sendiri,” kata Ray, dikutip Kamis, 10 September 2026.
Ray menyoroti manuver politik yang ia sebut sebagai poros Solo, yang dikaitkan dengan Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi.
Menurut dia, salah satu indikasinya terlihat dari pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai percepatan pemilu.
Ray juga menyinggung pertemuan Jokowi dengan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao.
Pertemuan tersebut, kata dia, berlangsung ketika Prabowo sedang berada di Rusia.
“Uniknya pertemuan itu bahkan tanpa kehadiran atau tidak melewati pertemuan resmi pemerintah, karena ketika pertemuan itu terjadi Pak Prabowo sedang berada di Rusia,” ujar Ray.
Ray menilai rangkaian aktivitas tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang perlu dicermati menjelang Pemilu 2029.
Selain poros Solo, Ray melihat adanya manuver dari poros lain yang ia sebut poros Cikeas, yang dikaitkan dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Pidato AHY dalam peringatan ulang tahun Partai Demokrat menjadi salah satu sorotan Ray.
Dalam pidato tersebut, AHY menyampaikan pesan mengenai kekuasaan yang tidak dimiliki selamanya oleh seseorang.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan spekulasi mengenai langkah politik AHY menuju Pilpres 2029.
Menurut Ray, manuver dari berbagai poros tersebut merupakan konsekuensi dari semakin dekatnya kontestasi politik nasional.
“Dalam kerangka itulah kadang-kadang mereka bisa memperlihatkan satu sikap yang bahkan boleh jadi tidak terkait dengan Presiden Prabowo,” katanya.
Ray memperkirakan persaingan antarpartai dan figur akan semakin terbuka menjelang Pemilu 2029.
Setiap kekuatan politik, kata dia, akan berusaha meningkatkan popularitas dan elektabilitas masing-masing.
Dalam kondisi tersebut, kepentingan partai dan figur politik bisa mulai berjarak dengan kepentingan pemerintah.
Ray bahkan memperkirakan ketegangan di internal koalisi Prabowo mulai muncul pada 2027.
“Mungkin 2027 mulai ketegangan di koalisi,” ujar dia.
Ia kemudian memprediksi 2028 menjadi titik penting dalam dinamika tersebut.
Menurut Ray, pada tahun itu bukan tidak mungkin ada partai politik yang menyatakan keluar dari koalisi pemerintahan Prabowo.
“Bahkan di 2028 akan ada anggota koalisi Pak Prabowo itu yang menyatakan keluar dari koalisi pemerintahan,” kata Ray.
Prediksi tersebut masih berupa analisis politik.
Belum ada kepastian partai mana yang akan meninggalkan koalisi maupun apakah ketegangan yang diperkirakan Ray benar-benar akan terjadi.