DEMOCRAZY.ID – PDI Perjuangan (PDIP) menilai pidato Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) soal kekuasaan yang tidak berlangsung selamanya bisa menjadi sinyal adanya ketidakpuasan terhadap kondisi internal pemerintahan.
Ketua DPP Bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif PDIP Deddy Yevri Sitorus mengatakan pernyataan AHY memang dapat dimaknai secara normatif.
Namun, karena disampaikan dalam pidato politik, pernyataan tersebut dinilai memiliki konteks dan tujuan politik tertentu.
“Kalau cara pandangnya normatif tentu tidak ada yang harus dipersoalkan. Tetapi masalahnya adalah bahwa itu adalah pidato politik dan tentu punya konteks dan tujuan politik tertentu pula,” kata Deddy dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).
Menurut Deddy, dari perspektif politik, pesan tersebut bisa saja ditujukan kepada pihak tertentu di dalam pemerintahan, termasuk koalisi maupun institusi atau lembaga pemerintahan.
“Kalau ini yang dijadikan sudut pandang, maka patut diduga ada ketidakpuasan yang dirasakan oleh AHY terhadap situasi internal pemerintahan atau institusi/lembaga tertentu,” katanya.
Langsung banyak reaksi, knp gak Jokowi ato presiden lainnya? Suka-suka AHY lah mau bilang apa juga, lagian konteksnya jelas, itu di acara HUT PD ke-25 nuansanya internal partai, dihadapan para kader dan SBY langsung, ya wajarlah klo ngomong sprt itu.. pic.twitter.com/KT9sW0xIob
— King Purwa (@BosPurwa) September 7, 2026
Meski demikian, Deddy mengaku tidak ingin berspekulasi mengenai kondisi yang sebenarnya dirasakan AHY.
Ia menyebut dugaan tersebut dapat dilihat dari intensitas komunikasi AHY maupun Partai Demokrat dengan Presiden Prabowo Subianto.
“Tinggal dilihat apakah ada sinyal-sinyal ketidakpuasan atau kekecewaan dari AHY atau partainya terhadap pengelolaan kekuasaan pemerintahan saat ini. Saya tidak berani menebak-nebak. Tinggal dicek seberapa sering AHY sebagai Menteri atau Ketua Umum Parpol berkomunikasi atau berinteraksi dengan Presiden,” tuturnya.
Pernyataan AHY sebelumnya disampaikan dalam pidato rangkaian peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat pada September 2026.
Dalam pidatonya, AHY menyinggung perjalanan Demokrat yang pernah berada di dalam maupun di luar pemerintahan.
Ia mengingatkan kekuasaan bukan sesuatu yang dimiliki seseorang untuk selamanya, melainkan amanah rakyat yang memiliki batas waktu.
AHY juga menyampaikan pentingnya menjaga demokrasi, termasuk profesionalitas dan netralitas aparatur negara.
Ia menekankan pemerintah harus terbuka terhadap kritik dan menghormati perbedaan.
Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengenai kekuasaan yang tidak selamanya dan memiliki batas waktu dinilai bisa memiliki makna politik menuju Pemilu 2029.
Ketua DPP Bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, menilai pernyataan tersebut tidak hanya dapat dibaca sebagai pesan normatif mengenai demokrasi dan kekuasaan.
Menurut Deddy, karena disampaikan dalam pidato politik, pernyataan AHY sangat mungkin memiliki konteks dan tujuan politik tertentu.
“Dari sudut pandang kontestasi politik, bisa saja ditafsirkan bahwa pernyataan itu adalah seruan kepada koalisi partai di pemerintahan untuk mulai memikirkan peta jalan baru menuju Pemilu 2029,” kata Deddy dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).
Tak hanya itu, Deddy menilai pernyataan AHY juga bisa dimaknai sebagai pesan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Atau, bisa juga diinterpretasikan sebagai pesan khusus kepada Presiden agar menghitung AHY/Demokrat dalam kontestasi pemilu yang akan datang.
Deddy kemudian mengaitkan kemungkinan tersebut dengan kondisi politik saat ini.
Ia menilai tren kepuasan publik terhadap pemerintah dan Presiden yang disebutnya menurun dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi AHY maupun Demokrat untuk mulai mengambil posisi menuju kontestasi politik berikutnya.
“Saat ini kepuasan publik terhadap pemerintah dan Presiden mengalami tren yang menurun. Sangat bisa dipahami jika kemudian AHY/Demokrat menyimpulkan sekarang ini sebagai momentum yang tepat untuk masuk dalam kancah pertarungan politik menuju 2029,” kata Deddy.
Namun, Deddy menilai AHY masih memiliki pekerjaan rumah jika ingin berbicara lebih jauh mengenai peluang politik pada 2029.
Ia menyoroti hasil survei yang menurutnya belum menunjukkan dukungan kuat terhadap AHY maupun Demokrat.
“Terlebih melihat rilis hasil survei berbagai lembaga yang belum menunjukkan dukungan yang kuat kepada AHY dan Demokrat,” ujarnya.
Deddy pun menilai AHY harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan dari sejumlah tokoh yang telah muncul dalam radar survei.
“Bagaimana peluang AHY saya kurang tahu tetapi kalau melihat survei, beliau perlu kerja sangat keras untuk mengejar ketertinggalan. Terutama untuk mengejar ketertinggalan terhadap berbagai tokoh yang sudah muncul dalam radar survei seperti KDM dan Prabowo sendiri,” ujarnya.