DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Hendri Satrio menilai peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 berpotensi jauh lebih dinamis dibandingkan kontestasi 2024.
Sejumlah nama disebut mulai masuk dalam kalkulasi politik, termasuk Anies Baswedan.
Hendri menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpeluang menjadi salah satu kandidat calon presiden terkuat pada 2029 apabila Presiden Prabowo Subianto kembali maju.
Namun, menurutnya, bursa kandidat tidak akan hanya diisi oleh pasangan tersebut.
“Calon-calonnya banyak. Dan 2029 ini kayaknya enggak cuma Prabowo-Gibran lagi. Mas Gibran sendiri ya calon presiden terkuat, menurut saya, selain Prabowo. Belum lagi ketua-ketua partai yang lain. PDI-P juga tidak pernah kekurangan kader. Ada Mas Ganjar, Mbak Puan, dan yang paling kuat kan Mas Pramono. Dan bisa jadi 2029 adalah Megawati Soekarnoputri ‘The Last Dance’,” kata Hensa kepada wartawan.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu juga memasukkan Anies Baswedan dalam peta kandidat Pilpres 2029.
Menurutnya, status Anies sebagai mantan calon presiden pada Pilpres 2024 membuat mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut masih memiliki basis massa yang dapat menjadi pertimbangan partai politik.
“Yang paling santer kan gerakan rakyat yang mengusung Anies Baswedan. Nah, ini tinggal dilihat gerakan rakyat itu lolos verifikasi atau tidak. Tapi kalau buat Mas Anies, pasti dia masuk dalam kalkulasi banyak politisi. Kenapa? Apa pun itu, politisi kan pasti mencari: punya basis massa atau tidak. Sebagai mantan calon presiden di 2024 lalu, pasti Anies punya basis massa. Dia akan dipakai atau tidak, itu yang dilihat,” ujarnya.
Hensa kemudian mengaitkan peluang Anies dengan langkah politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Ia menilai Jokowi bukan sosok yang hanya menyiapkan satu skenario politik.
Menurut Hensa, apabila Gibran diproyeksikan maju sebagai calon presiden pada 2029, berbagai figur dapat masuk dalam perhitungan politik Jokowi.
Salah satunya adalah Anies Baswedan sebagai kemungkinan calon pendamping Gibran.
“Saya rasa juga Jokowi itu kan selalu punya banyak rencana. Enggak pernah dia punya satu rencana. Setelah itu mungkin bisa yang lain. Dia bisa lewat PSI. Mungkin dia juga bisa hitung Anies Baswedan sebagai salah satu kandidat mendampingi anaknya. Jadi, di politik itu, terutama setelah Mas Gibran jadi wapres, sulit kita mengatakan tidak mungkin,” katanya.
Meski demikian, Hensa mengingatkan konfigurasi politik menuju Pilpres 2029 masih sangat cair.
Waktu menuju kontestasi tersebut masih panjang sehingga komunikasi, koalisi, dan kepentingan antarpartai masih dapat berubah.
Ia juga menilai Jokowi tetap menjadi figur yang diperhitungkan dalam dinamika politik nasional.
Rekam jejak politik Jokowi, menurut Hensa, membuat berbagai langkah mantan presiden tersebut masih menjadi perhatian para aktor politik.
“Jokowi itu orang yang sangat cerdas di politik. Dia paham strategi politik, dia paham momentum politik. Itu kelebihan seorang Jokowi. Kalau di sepak bola, orang hebat kan pernah kalah juga. Tapi saya setuju kalau Jokowi itu ‘the special one’. Dia sampai hari ini orang masih ngedeketin kok, masih jalan kok. Canggih lah dia,” pungkasnya.
Pernyataan Hensa tersebut menempatkan Pilpres 2029 sebagai arena politik yang masih terbuka terhadap berbagai kemungkinan.
Selain Prabowo dan Gibran, nama-nama dari sejumlah partai politik, termasuk Anies, Ganjar Pranowo, Puan Maharani, hingga Pramono Anung, disebut berpotensi masuk dalam kalkulasi politik menuju kontestasi berikutnya.