DEMOCRAZY.ID – Peta elektoral calon presiden dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan persaingan yang semakin ketat.
Presiden Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas ketika responden diminta menyebutkan nama calon presiden secara spontan.
Namun, posisi tersebut berubah ketika responden diberikan daftar nama kandidat.
Dalam simulasi terbuka atau top of mind, Prabowo memperoleh elektabilitas 23,4 persen.
Angka tersebut menempatkannya di posisi pertama, tetapi keunggulannya atas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sangat tipis.
Dedi Mulyadi memperoleh 21,7 persen atau hanya terpaut 1,7 poin persentase dari Prabowo.
Sementara itu, Anies Baswedan berada di posisi ketiga dengan 11,5 persen.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan posisi Prabowo dalam simulasi terbuka masih menunjukkan kuatnya pengaruh statusnya sebagai Presiden.
“Keunggulan Prabowo tersebut menunjukkan bahwa posisinya sebagai Presiden masih memberikan pengaruh terhadap tingkat keteringatan (top of mind) masyarakat,” ujar Dedi Kurnia Syah dalam keterangannya.
Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan ketika IPO mengubah metode pertanyaan dengan memberikan daftar nama kepada responden.
Dalam simulasi tertutup dengan 10 nama calon presiden, Dedi Mulyadi justru melesat ke posisi pertama dengan elektabilitas 29,5 persen.
Prabowo berada di posisi kedua dengan 19 persen.
Dengan angka tersebut, Dedi Mulyadi unggul 10,5 poin persentase atas Prabowo dalam simulasi tertutup.
Anies Baswedan kembali berada di posisi ketiga dengan 12,7 persen.
Setelah itu terdapat Agus Harimurti Yudhoyono dengan 5,8 persen dan Gibran Rakabuming Raka sebesar 5,1 persen.
Perubahan hasil antara simulasi terbuka dan tertutup tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara figur yang paling spontan diingat publik dan pilihan ketika nama-nama kandidat disodorkan secara langsung.
Dalam simulasi terbuka, Prabowo masih menjadi nama yang paling banyak disebut.
Namun, ketika pilihan diperluas dan responden diminta menentukan pilihan dari daftar kandidat, Dedi Mulyadi justru mendapatkan dukungan paling besar.
Dedi Kurnia Syah menilai posisi Prabowo belum sepenuhnya aman meskipun masih menjadi figur dengan tingkat keteringatan tertinggi dalam pertanyaan terbuka.
Keunggulan hanya 1,7 poin atas Dedi Mulyadi dalam simulasi tersebut menunjukkan adanya figur lain yang mulai mampu mengejar posisi Prabowo.
“Ya, memang tidak signifikan meninggalkan nama-nama yang lain,” kata Dedi.
Menurut dia, keberlanjutan dukungan terhadap Prabowo akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menghadirkan kebijakan yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Hasil survei ini juga memperlihatkan posisi Dedi Mulyadi yang semakin menonjol dalam peta elektoral.
Gubernur Jawa Barat tersebut tidak hanya berada di posisi kedua dalam simulasi terbuka, tetapi mampu mengambil alih posisi pertama ketika responden diberikan daftar kandidat.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu temuan penting survei IPO karena menunjukkan bahwa persaingan elektoral tidak hanya ditentukan oleh popularitas spontan, tetapi juga oleh tingkat penerimaan ketika masyarakat dihadapkan pada sejumlah alternatif kandidat.
Survei IPO dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden di berbagai provinsi.
Survei menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar ±2,9 persen.