3 Poin Alasan Gibran Wajib ‘Mundur’ dari Kursi Wapres!

DEMOCRAZY.IDPakar hukum tata negara, Denny Indrayana, secara terbuka membeberkan tiga alasan utama di balik desakannya agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka segera mundur dari jabatannya.

Menurutnya, keberadaan Gibran di kursi RI-2 tidak hanya bermasalah secara legalitas moral sejak awal pencalonan, tetapi juga menyimpan potensi ancaman serius bagi keberlangsungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Berikut adalah tiga poin utama dorongan Denny Indrayana agar Gibran mundur:

1. Tidak Memenuhi Syarat Awal Maju Cawapres

Denny menyoroti kembali cacat proses yang mengantarkan Gibran menuju panggung Pilpres 2024.

Ia menilai pencalonan tersebut cacat secara etika menyusul putusan kontroversial Mahkamah Konstitusi yang saat itu diketok oleh Anwar Usman—yang belakangan terbukti berbuah sanksi pelanggaran etika berat dari MKMK.

“Jabatan Wapres terlalu terhormat untuk diisi orang yang kapasitas intelektual dan integritas moralnya problematik,” tegas Denny, dikutip dari kanal YouTube Hendri Satrio, Selasa (11/8/2026).

2. Mengantisipasi Potensi Tumbangnya Rezim & Risiko Kepemimpinan

Poin krusial berikutnya berkaitan dengan proyeksi skenario terburuk apabila di tengah jalan Presiden Prabowo berhalangan tetap dalam menjalankan tugasnya.

Sesuai amanat konstitusi, posisi kepala negara secara otomatis akan dilimpahkan kepada wakil presiden.

Bagi Denny, suksesi kepemimpinan kepada Gibran dalam situasi tersebut bukanlah sebuah jalan keluar, melainkan ancaman bagi stabilitas nasional.

“Gibran naik jadi Presiden itu solusi atau petaka? Ini bukan solusi, menurut keyakinan saya,” tuturnya.

3. Presiden Prabowo Diyakini Mudah Mencari Pengganti yang Lebih Baik

Denny juga meyakini bahwa Presiden Prabowo tidak akan menghadapi kesulitan berarti apabila harus mencari figur pengganti yang memiliki kapasitas, integritas, dan kompetensi yang jauh lebih matang untuk mendampingi roda pemerintahan.

Ia bahkan kembali menyinggung gestur penempatan posisi duduk Gibran yang sejajar dengan para Menteri Koordinator saat sidang kabinet sebagai indikasi terselubung bahwa hati kecil kepala negara menghendaki adanya evaluasi total.

“Kalau Presiden mencari yang lebih baik dari Mas Gibran, sepertinya lebih mudah. Insya Allah (ekonomi) lebih baik,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya