DEMOCRAZY.ID – Kedutaan Besar Iran untuk Afrika Selatan tengah memicu kehebohan di jagat maya setelah mengunggah cuitan sarkastik yang menyoroti perombakan besar-besaran di tubuh militer Amerika Serikat (AS).
Melalui akun resmi @IraninSA, pihak kedutaan membagikan foto-foto jenderal senior AS yang baru saja dipecat oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Uniknya, wajah para petinggi militer tersebut ditandai dengan simbol “X” besar berwarna oranye dalam unggahan yang dibagikan Jumat tersebut (3/4/2026).
Cuitan tersebut hanya menuliskan pesan singkat namun menohok: “The regime change happened successfully. MAGA”. (Rezim sudah berhasil diganti)
MAGA sendiri adalah singkatan dari slogan politik “Make America Great Again” (Buat Amerika Hebat Lagi).
Slogan ini menjadi sangat ikonik dan identik dengan Donald Trump sejak kampanye kepresidenannya pada tahun 2016.
Sontak, unggahan tersebut viral dan telah disaksikan jutaan pasang mata dalam waktu singkat.
Banyak warganet menilai aksi ini sebagai balasan telak terhadap retorika Washington yang selama ini kerap menyuarakan “regime change” atau penggulingan rezim di Iran.
The regime change happened successfully.
MAGA😀 pic.twitter.com/R75aFdmSTN
— Iran Embassy SA (@IraninSA) April 3, 2026
Aksi sindir di media sosial ini muncul bersamaan dengan badai pemecatan personel di Pentagon yang disebut-sebut sebagai yang terdahsyat dalam sejarah modern militer AS.
Hal ini terjadi setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth bergerak cepat melakukan “pembersihan” terhadap perwira yang dianggap tidak sejalan dengan visi “America First” di tengah perang Iran yang memasuki minggu kelima.
Sosok paling sentral yang didepak adalah Kepala Staf Angkatan Darat (Chief of Staff of the Army),
Jenderal Randy George. Pemecatan George mengejutkan banyak pihak karena ia merupakan pemegang tongkat komando tertinggi di AD Amerika Serikat.
Tak berhenti di situ, Hegseth juga mencopot belasan perwira bintang empat dan bintang tiga lainnya. Selain Jenderal Randy George, beberapa nama besar yang dikabarkan masuk dalam daftar “pembersihan” ini meliputi:
Sejumlah perwira tinggi yang bertanggung jawab atas perencanaan strategis perang Iran dilaporkan telah dibebastugaskan.
Beberapa jenderal yang mengawasi operasi langsung di Timur Tengah juga ditarik kembali ke Washington untuk menghadapi audit kepemimpinan.
Belasan perwira di tingkat deputi dan asisten kepala staf di Pentagon turut merasakan imbas dari kebijakan radikal pemerintahan Trump ini.
Sejumlah pengamat militer menyebut langkah drastis ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan upaya sistematis untuk memastikan loyalitas penuh militer terhadap kebijakan Gedung Putih, terutama setelah insiden jatuhnya dua jet tempur AS baru-baru ini.
Di saat Pentagon bergejolak, kursi panas di Gedung Putih juga sedang bergoyang.
Presiden Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan perombakan (reshuffle) kabinet yang lebih luas sebagai langkah “reset” politik.
Langkah ini diambil setelah tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Trump merosot tajam ke angka 36 persen, titik terendah selama masa jabatannya.
Menurut laporan Reuters yang dikutip Tribunnews.com, Jaksa Agung Pam Bondi menjadi korban pertama dari gelombang perombakan ini setelah sosoknya resmi dicopot pada Kamis (2/4/2026) lalu.
Tak berhenti di situ, posisi Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick kini disebut-sebut berada di ujung tanduk akibat ketidakpuasan Trump terhadap performa mereka dalam menghadapi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Gejolak internal ini dipicu oleh melonjaknya harga BBM dan kegagalan pidato kenegaraan Trump yang dinilai gagal menenangkan publik.
Beberapa sekutu Trump menilai pidato “Kemenangan AS atas Iran” sang Presiden pada hari Rabu tersebut (1/4/2026) gagal memberikan dampak yang diharapkan.
Selama pidatonya kala itu, Trump menolak untuk memaparkan jalan keluar bagi perang yang dimulai pada 28 Februari tersebut.
Tidak adanya langkah konkret untuk mengakhiri perang ini pun meninggalkan kesan bahwa konflik di Iran bersifat terbuka tanpa akhir.
Seorang pejabat senior Gedung Putih kepada Reuters menggambarkan pidato tersebut sebagai upaya untuk memproyeksikan rasa kendali dan kepercayaan diri tentang arah perang.
Namun kenyataannya, pidato tersebut justru memperkuat persepsi bahwa perubahan dalam penyampaian pesan atau personel sangat diperlukan.
“Pidato itu tidak mencapai apa yang seharusnya dicapai,” kata pejabat tersebut kepada Reuters.
Ia menambahkan bahwa meskipun pendukung inti Trump masih mendukungnya dalam perang, mereka secara luas berada di bawah tekanan ekonomi.
“Pemilih menoleransi pesan ideologis, tetapi mereka merasakan harga bahan bakar secara langsung,” tutur pejabat tersebut.
Sumber: Tribun