

DEMOCRAZY.ID — Skandal mega korupsi yang membelit mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, kini resmi tersorot mata dunia internasional.
Media terkemuka asal Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), turut membongkar kematian misterius Sutrimo (42)—pria yang diduga merupakan kepala rumah tangga (karumga) di kediaman Febrie.
Dalam tajuk utamanya, SCMP mengangkat judul ‘Pria yang Dikaitkan dengan Mantan Jaksa Agung Muda Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas di Jaksel’, menegaskan bahwa insiden ini telah memperkeruh salah satu skandal hukum paling sensitif di Indonesia saat ini.
“Kepolisian Republik Indonesia tengah menyelidiki kematian misterius seorang pria berinisial Sutrimo yang dilaporkan mengelola urusan rumah tangga mantan jaksa anti-korupsi, Febrie Adriansyah. Peristiwa ini menambah sorotan baru dalam salah satu kasus korupsi paling sensitif di Tanah Air,” tulis laporan investigatif SCMP.
Berdasarkan catatan kronologi, Sutrimo—yang merupakan warga asli Banyumas, Jawa Tengah—ditemukan tergeletak tak bernyawa di halaman depan Mordent Aesthetic Clinic, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menjelaskan bahwa korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring untuk mendapatkan pertolongan darurat.
Namun, nyawa korban sudah tidak tertolong.
“Pihak rumah sakit menerangkan bahwa Sutrimo tiba dalam keadaan sudah meninggal dunia,” ujar Budi dalam keterangan tertulisnya.
Hingga saat ini, pihak kepolisian berdalih masih melakukan pendalaman intensif untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.
Penyidik juga tengah mengulik apakah Sutrimo memiliki ikatan formal dengan Febrie Adriansyah, yang sebelumnya telah digelandang ke tahanan usai ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kasus mega pencucian uang (TPPU).
Masuknya pemberitaan ini ke radar media global semakin menguatkan stigma miring terhadap integritas penegakan hukum di negeri ini.
Publik tentu tidak begitu saja percaya dengan narasi tunggal aparat di tengah momentum yang terlampau kebetulan: seorang figur yang berada di lingkar dalam rumah tangga pejabat penegak hukum kelas kakap tewas secara misterius, persis di saat sang bos tersangkut pusaran korupsi ratusan miliar rupiah.
Ketika media internasional mulai membongkar borok institusi penegak hukum Indonesia, pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat polisi bisa menghentikan spekulasi, melainkan sejauh mana rezim ini mampu menutupi tabir gelap di balik kematian tragis seorang rakyat kecil yang terseret pusaran kekuasaan elite.