DEMOCRAZY.ID – Mantan Sekretaris BUMN sekaligus Pegiat Media Sosial, Said Didu terus menyorot tajam ke mantan Presiden Joko Widodo.
Sorotan tajamnya ini terkait isu soal Joko Widodo yang sampai saat ini masih punya keinginan untuk terus berkuasa di pemerintahan.
Said Didu lewat salah satu cuitan di akun media sosial X pribadinya, mengaku sudah memprediksi isu sekaligus kejadian ini.
Ia menyebut sedari awal Jokowi memang tidak benar-benar ingin melepas kekuasaannya ke siapa pun itu. Bahkan ketika harus dilepas ia tidak rela.
Untuk pemimpin atau presiden saat ini yaitu Prabowo Subianto disebut kekuasaan ini tidak pernah benar-benar rela dilepas oleh Jokowi.
“Sejak awal kita sudah bisa pastikan bahwa Jokowi tidak pernah rela melepaskan kekuasaan kepada siapa pun – termasuk ke Prabowo,” tulis Said Didu dikutip Kamis (27/8).
Lebih jauh, ada timeline pernyataan yang dilontarkan oleh Said Didu untuk mendukung pernyataannya terkait Jokowi ini.
Pada 18 Agustus lalu, ia sudah memberikan analisisnya terkait kemungkinan adanya pergerakan kudeta senyap.
Kudeta ini disebut dilakukan di saat Pemerintahan Presiden Prabowo memasuki masa jabatan dua tahun.
“18 Agustus 2026, Manusia Merdeka menganalisis bahwa sepertinya ada “kudeta senyap” menjelang 2 (dua) tahun pemerintahan Prabowo,” ungkapnya.
Dan akhirnya pada 25 Agustus, analisis tersebut akhirnya terjawab menurut Said Didu lewat apa yang diungkap oleh Budi Arie.
“25 Agustus 2026, kebenaran analisis tersebut terjawab dari pernyataan Budi Arie pada meeting mereka bersama Jokowi tanggal 24 Agustus 2026,” tuturnya.
Baca JugaSejak awal kita sudah bisa pastikan bahwa Jokowi tidak pernah rela melepaskan kekuasaan kepada siapapun – termasuk ke Prabowo.
18 Agustus 2026, Manusia Merdeka menganalisis bahwa sepertinya ada “kudeta senyap” menjelang 2 (dua) tahun pemerintahan… pic.twitter.com/wpRgnReqk6
— Muhammad Said Didu (@msaid_didu) August 26, 2026
Sebelumnya, ada pernyataan dari Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi yang didampingi langsung oleh Joko Widodo.
Budi Arie Setiadi sudah berani bicara soal kemungkinan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak bertahan hingga 2029.
Di video yang beredar, Budi Arie mengaku sudah menyampaikan kepada Jokowi bahwa berdasarkan insting atau feeling-nya, situasi politik saat ini tampaknya tidak sampai 2029.
Budi Arie juga menyebut istilah ‘patahan sejarah’ untuk menggambarkan kemungkinan perubahan politik yang lebih cepat.
“Tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’ Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029,” kata Budi dalam video tersebut.
Ia kemudian melontarkan pertanyaan kepada para peserta mengenai kemungkinan terjadinya percepatan.
“Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, gak?” ujarnya.
Peserta yang hadir kemudian menjawab, “Siap!”
Budi dalam kesempatan ini kemudian mengaitkan kemungkinan tersebut dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Ia juga menyinggung pengalaman Reformasi 1998 sebagai contoh perubahan politik yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan.
Menurut Budi, keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi dapat menjadi variabel yang memengaruhi dinamika politik nasional.