DEMOCRAZY.ID – Guru Besar bidang hubungan internasional di Universitas Negeri Saint Petersburg, Rusia, Connie Rahakundini Bakrie menyesalkan aksi pembentangan foto raksasa bergambar Presiden Prabowo Subianto oleh prajurit TNI dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Connie mengaku sedih melihat sejumlah rangkaian perayaan kemerdekaan yang berlangsung tahun ini.
Salah satu yang paling menarik perhatiannya adalah ketika bendera raksasa bergambar Prabowo dibentangkan di langit menggunakan aksi para prajurit.
Dikatakan Connie, persoalannya bukan mengenai boleh atau tidaknya atribut tersebut ditampilkan.
Republik Indonesia yg sedang
ulang tahun, tapi justru malah
foto Prabowo yg dibentangkan
di atas langit Jakarta.Baca Juga“𝗣𝗥𝗢𝗣𝗔𝗚𝗔𝗡𝗗𝗔 𝗔𝗦𝗨”
Se-fasis-fasisnya Adolf Hitler
tidak pernah membentangkan
fotonya di udara, walau untuk
propaganda sekalipun.𝗗𝗔𝗦𝗔𝗥 𝗟𝗢𝗡𝗗𝗢… pic.twitter.com/XhseZlUlMl
— SHENO WIRANG (@ShenoWirang) August 17, 2026
Namun, ia mempertanyakan kepantasan penggunaan gambar kepala negara dalam momentum yang seharusnya menjadi perayaan kemerdekaan bangsa.
“Of all the things yang saya lihat pagi ini tentang upacara kemerdekaan. Tau gak yang bikin aku paling sedih apa?” ujar Connie, Selasa (18/8/2026).
Ia kemudian menyentil momen ketika bendera bergambar Prabowo dibentangkan oleh tentara di langit.
“Ketika bendera Pak Prabowo dikibarkan para tentara di langit kita, di langit kita di atas sana,” ucapnya.
Connie mengaku mempertanyakan alasan di balik aksi tersebut.
“Pertanyaan saya cuma satu, bukan gak boleh. Tapi senarsis itu kah?” lanjutnya.
Ditegaskan Connie, penggunaan gambar Prabowo dalam atribut yang dibentangkan oleh prajurit TNI dalam momentum HUT Kemerdekaan RI dinilai kurang tepat.
Ia mempertanyakan apakah Presiden memang perlu ditampilkan sedemikian rupa dalam perayaan kemerdekaan.
“Perlukah Pak Prabowo di, apa ya, sampai bendera dia diangkat sedemikian rupa? Apa ya? Ada yang salah kayaknya,” ucap Connie.
Ia bahkan secara terbuka menyampaikan kesannya terhadap aksi tersebut.
“Kalau ini Pak Prabowo melihat, Pak, you are too much. Jadi kayaknya narsis banget. At least this is my impression. I hope I’m wrong,” tegasnya.
Tak hanya mengkritik Presiden, Connie juga memberikan catatan kepada institusi TNI.
Ia berharap prajurit TNI dapat lebih sensitif dalam membaca suasana serta memahami perasaan masyarakat, khususnya ketika terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan peringatan kemerdekaan.
“Apalagi itu oleh tentara-tentara kita gitu. Saya ingin sebenarnya tentara itu lebih sensitif,” Connie menuturkan.
“Lebih memahami juga perasaan rakyat seperti apa dan ini adalah hari ulang tahun kemerdekaan,” tambahnya.
Connie berujar, perayaan HUT Kemerdekaan seharusnya menempatkan simbol-simbol kebangsaan sebagai pusat perhatian.
Connie menegaskan kembali bahwa atribut yang ditampilkan dalam perayaan kemerdekaan semestinya tidak berfokus pada sosok presiden.
“Selayaknya kalau yang diangkat di dalam bendera tersebut. Harusnya bukan Pak Prabowo dong,” timpalnya.
Menurut dia, HUT Kemerdekaan merupakan momentum milik seluruh rakyat Indonesia, bukan momentum untuk menonjolkan figur tertentu.
Connie sendiri menegaskan bahwa kritik tersebut merupakan kesan pribadinya dan masih membuka kemungkinan bahwa penilaiannya keliru.
“At least this is my impression. I hope I’m wrong,” kuncinya.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta, Senin (17/8/2026), berlangsung semarak dengan berbagai atraksi militer.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah aksi pasukan penerjun Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI yang membawa bendera bergambar Presiden Prabowo Subianto di langit ibu kota.
Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan udara dalam perayaan Hari Kemerdekaan.
Para penerjun tidak hanya membawa simbol angka 81, tetapi juga mengibarkan Sang Saka Merah Putih dalam ukuran besar.
Momen tersebut terlihat dalam tayangan yang disiarkan melalui videotron di kawasan acara.
Dalam video yang beredar, tampak bendera berukuran besar dengan angka 81 serta gambar Presiden Prabowo terbentang di antara para penerjun yang melayang di udara.
Pengibaran bendera tersebut ditampilkan sebagai bagian dari atraksi untuk menyemarakkan peringatan kemerdekaan sekaligus menggambarkan penghormatan dan semangat patriotisme dalam perayaan HUT ke-81 RI.
Aksi terjun payung tersebut diawali dari ketinggian sekitar 10.000 feet.
Para penerjun menggunakan pesawat CN295 dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma.
Pesawat tersebut diterbangkan oleh Letkol Pnb Ari Purba Kusuma. Sebanyak 17 prajurit Kopassus diterjunkan dalam atraksi tersebut.
Jumlah penerjun itu memiliki makna simbolis karena menyesuaikan dengan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yakni 17 Agustus.
Selain bendera dengan angka 81 dan foto Presiden Prabowo, para penerjun juga membawa Sang Saka Merah Putih berukuran 12×8 meter.
Bendera tersebut dibentangkan di udara ketika para penerjun melakukan formasi setelah keluar dari pesawat.
Atraksi kemudian dilanjutkan dengan sejumlah manuver di udara, termasuk formasi “ular-ularan” yang menjadi bagian dari pertunjukan penerjun.
Setelah melakukan manuver dan membentuk formasi di udara, seluruh parasut penerjun berkembang dengan sempurna.
Para prajurit kemudian berhasil mendarat dengan aman.
Aksi tersebut menjadi salah satu pertunjukan yang menarik perhatian dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Jakarta.
Atraksi para penerjun Kopassus sekaligus menambah semarak perayaan kemerdekaan yang digelar dengan menghadirkan berbagai pertunjukan untuk masyarakat.