DEMOCRAZY.ID – Pejabat pertahanan Israel dilaporkan terkejut dengan cepatnya pemulihan kemampuan militer Iran pasca-serangan gencar yang dilancarkan AS dan Israel pada tahap awal konflik.
Demikian dilaporkan Jerusalem Post seperti dilansir RT.
Awal pekan ini, seorang penasihat senior bagi komandan tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa tingkat produksi rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) Iran melampaui laju penggunaan senjata-senjata tersebut.
“Bahkan jika perang berlangsung selama beberapa tahun, rudal-rudal balistik kami akan terus menghujani musuh,” ujar Brigadir Jenderal Mohammad-Reza Naqdi kepada Press TV.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Kamis, Jerusalem Post menyatakan telah mengonfirmasi secara independen keakuratan pernyataan para pejabat senior Iran mengenai percepatan produksi persenjataan di negara tersebut.
Pasukan Israel (IDF) selama berbulan-bulan mengeklaim bahwa industri pertahanan Iran mengalami kemunduran selama bertahun-tahun akibat serangan yang dilancarkan pasukan AS dan Israel.
Operasi militer itu mencakup sekitar 30 ribu serangan dan menghantam lebih dari 2.600 target rudal serta fasilitas industri militer selama fase paling intens konflik tersebut antara akhir Februari dan awal April.
Namun, laporan media Israel tersebut menyebutkan bahwa kini baik IDF maupun badan intelijen Mossad mengakui mereka tidak menyangka Teheran akan memulihkan kembali persediaan rudal balistik dan senjata-senjata penting lainnya secepat itu.
Menurut para pejabat Israel, pihak Iran tidak hanya mampu mengakses kembali lokasi rudal bawah tanah yang terdampak serangan udara AS-Israel dengan cepat, tetapi juga menemukan cara-cara kreatif lain untuk membangun kembali persenjataan mereka.
Surat kabar tersebut mengindikasikan bahwa jika Teheran terus memproduksi antara 100 hingga 300 rudal per bulan, hal itu dapat menjadi ancaman yang sangat berat bagi Israel pada 2028 mendatang.
Kemungkinan ini diperkirakan akan memengaruhi strategi Israel secara lebih luas terkait kapan—dan apakah—serangan lanjutan terhadap Iran diperlukan, tambah laporan itu.
Saat dimintai komentar oleh Jerusalem Post, juru bicara militer Israel menyatakan bahwa mengingat sifat masalah yang dihadapi, mereka tidak dapat memberikan penilaian konkret mengenai laju pemulihan [kemampuan Iran] tersebut.
“Karena mengungkapkan rincian semacam itu dapat membongkar sumber dan metode IDF,” ujar jubir itu.
“IDF akan terus menganalisis perkembangan situasi dan bersiap menghadapinya,” tegas juru bicara tersebut.
Meskipun Israel menahan diri dari tindakan militer terhadap Iran sejak bulan Juni, ketegangan antara Washington dan Teheran terkait Selat Hormuz terus berlanjut.
Menurut Reuters, lalu lintas di jalur perairan vital yang mencakup seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia itu telah berkurang menjadi delapan kapal per hari di tengah laporan adanya lebih banyak serangan terhadap kapal-kapal.
Angka ini jauh menurun dibandingkan kondisi sebelum konflik, yang mencapai antara 130 hingga 140 kapal setiap harinya.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan bahwa pihak Amerika memegang kendali penuh atas selat tersebut.
Teheran membantah klaim itu keesokan harinya, dengan menegaskan bahwa jalur perairan tersebut tetap berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran.