DEMOCRAZY.ID – Aktivis Muhammad Said Didu merespons hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang disebutnya belum menunjukkan peningkatan popularitas Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Said Didu, langkah perombakan kabinet atau reshuffle dengan memasukkan sejumlah nama, seperti Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan, hingga mengganti Kapolri, bukanlah solusi utama untuk meningkatkan popularitas Prabowo.
“Artinya, bukan itu penyakitnya. Sepertinya mereka harus sadari bahwa yang ditunggu masyarakat di sini adalah memang membersihkan Geng Solo. Karena dulu kan saya katakan Solo oligarki Parcok. Kalau Parcoknya ditanya sudah dicabut, tapi Solonya dan oligarki masih ada,” kata Said Didu melalui podcast Refly Harun Official, dikutip Senin (19/10/2026).
Menurutnya, Prabowo harus benar-benar memanfaatkan momentum politik yang ada.
Jika tidak, elektabilitasnya dikhawatirkan terus menurun.
Ia menyinggung hasil survei SMRC yang disebut menunjukkan Prabowo kalah dari Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan dalam sejumlah indikator elektabilitas.
Said Didu menilai kondisi tersebut dapat terus memengaruhi elektabilitas Prabowo jika tidak ada tindak lanjut terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang berkaitan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Pak Presiden Prabowo mengambil sikap, nggak bisa diteruskan maka dibatalkan. Ini agak lembut. Maksudnya hampir seluruh partai sebenarnya tidak ada yang menghalangi, kecuali PSI. Makanya ini agak mulus,” tutur mantan Sekretaris Kementerian BUMN tersebut.
Said Didu Heran Mahasiswa Belum Turun ke Jalan
Ia berharap mahasiswa segera melakukan aksi untuk menyuarakan aspirasi mereka.
“Apalagi menurut saya perlawanan Pak Jokowi semakin hari semakin naik kepada Prabowo. Sampai saya dapat informasi, beliau (Jokowi) standby terus di Jakarta,” ungkap Said Didu.
Lebih lanjut, Said Didu mengaku mendapat informasi bahwa Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menemui Prabowo pada 6 Oktober, menjelang pembacaan putusan MK terkait ijazah Gibran.
Menurut informasi yang diterimanya, pertemuan tersebut bukan berlangsung di kediaman Prabowo di Kertanegara.
Ia juga menyebut Jokowi harus menunggu selama dua jam.
“Lucu tuh bahwa mendatangi presiden untuk pada saat anaknya mau dibacakan hukum putusannya di MK,” ujarnya.
“Saya dapat informasi bukan di Kertanegara. Dan saya dapat informasi Jokowi tunggu sampai dua jam. Artinya ini komplit,” lanjutnya.
Said Didu Ingatkan Prabowo soal Geng SoloSaid Didu menegaskan bahwa keberadaan orang-orang yang disebutnya sebagai Geng Solo di sekitar Prabowo perlu menjadi perhatian.
Ia khawatir lingkaran tersebut dapat memengaruhi pengambilan keputusan Presiden.
“Siapa tahu Pak Prabowo terjebak. Dijebak, tak tahu sudah datang aja gitu kan. Sehingga menunggu dan saya dapat informasi bukan di Kertanegara. Saya lihat meja pun bukan di Kertanegara,” tandasnya.
Pernyataan Said Didu tersebut merupakan pandangannya terhadap dinamika politik nasional.
Informasi mengenai pertemuan Jokowi dan Prabowo serta klaim terkait lingkaran politik di sekitar Presiden disampaikan berdasarkan informasi yang diakuinya diterima, dan memerlukan verifikasi independen.