DEMOCRAZY.ID — Serangan terbuka dan gertakan politik kembali diluncurkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke arah Istana!
Ketika gelombang pemakzulan (impeachment) terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kian membesar di Parlemen akibat skandal cacat administrasi ijazah, kubu PSI mendadak melontarkan Sindiran menohok yang menyasar langsung Presiden Prabowo Subianto.
Politikus PSI, Dedy Nur Palakka, melayangkan kritik tajam melalui akun media sosial resminya mengenai kriteria kepemimpinan nasional.
Secara vulgar, Dedy meminjam istilah ikonik “Omon-Omon” untuk menyerang efektivitas kepemimpinan Presiden Prabowo yang dinilainya mulai melenceng dari harapan publik.
“Inilah perbedaan presiden yang kerja dan yang omon-omon. Yang kerja menghasilkan efek jangka panjang bagi rakyat. Yang omon-omon hanya menghasilkan masalah berkepanjangan,” cetus Dedy dalam keterangannya di platform X (Twitter), Rabu (14/10/2026).
Inilah perbedaan yang kerja dan yang omon-omon.
Yang kerja menghasilkan efek jangka panjang bagi rakyat.Yang omon-omon hanya menghasilkan masalah berkepanjangan. https://t.co/Sb5dAy0R0v
— Dedy Nur (@DedynurPalakka) October 14, 2026
Sindiran pedas ini bukan sekadar luapan emosi biasa, melainkan bagian dari maneuver bertahan dan gertakan politik bernada intimidatif dari kubu PSI—partai yang dikomandoi oleh Kaesang Pangarep—terhadap Presiden Prabowo.
Sebagaimana terungkap dalam berbagai forum politik pasca-Putusan MK 6 Oktober 2026, PSI secara paralel melemparkan ancaman bahwa jika Gibran dilengserkan dari kursi Wakil Presiden, maka Presiden Prabowo Subianto pun dipastikan bakal ikut terseret jatuh.
Istilah “omon-omon” yang dahulu sering dipakai Prabowo untuk menyindir lawan politiknya kini justru ditampar balik ke muka Istana oleh PSI sebagai bentuk kepanikan atas posisi Gibran yang kian di ujung tanduk.
PSI seolah ingin memberikan pesan menyengat kepada Prabowo: Jangan hanya pandai “omon-omon” di mimbar tentang keberhasilan kabinet, tetapi buktikan keberanian pasang badan menyelamatkan Gibran dari kepungan Hak Angket DPR!
Sindiran PSI mengenai “presiden omon-omon” menemukan momentumnya ketika disandingkan dengan indikator riil perekonomian nasional yang kian memprihatinkan di bawah pemerintahan Prabowo:
Laju Pertumbuhan Ekonomi Melambat: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), setelah sempat tumbuh 5,61 persen pada Triwulan I-2026, laju ekonomi Indonesia langsung anjlok melambat menjadi 5,29 persen pada Triwulan II-2026.
Kemiskinan Mencekik: BPS mencatat angka kemiskinan pada Maret 2026 masih bertengger di angka 8,07 persen atau mencakup 22,93 juta rakyat miskin yang bertahan hidup dalam himpitan harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi.
Janji-janji politik seperti pertumbuhan ekonomi 9 persen, swasembada cepat, hingga program populis berbiaya raksasa kini dinilai publik hanya sebatas obral retorika tanpa eksekusi lapangan yang matang.
Hingga saat ini, pihak Istana belum melayangkan tanggapan resmi atas sindiran “presiden omon-omon” dari kader PSI tersebut.
Namun, manuver PSI ini kian memperjelas betapa rapuhnya fondasi koalisi yang dibangun bersama trah Solo.
PSI kini secara terbuka menggunakan posisi Prabowo sebagai “sandera politik”: jika Prabowo ragu-ragu membela Gibran, PSI tak segan menyebar narasi delegitimasi terhadap kinerja Presiden.
Prabowo kini dihadapkan pada ujian kepemimpinan paling nyata: Apakah sang Presiden akan terus membiarkan pemerintahannya didikte dan diancam oleh partai gurem pelindung cacat administrasi Gibran, ataukah Prabowo akan membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar “Presiden Omon-Omon” dengan berani membersihkan benalu kekuasaan demi menegakkan supremasi hukum di Indonesia?