DEMOCRAZY.ID — Gelombang guncangan politik pasca-terungkapnya cacat ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi kini berubah menjadi gertakan nekat dari kubu relawan Solo!
Merasa dipojokkan oleh isu impeachment yang kian membesar di DPR, barisan pendukung fanatik Presiden ke-7 RI Joko Widodo mulai melontarkan ancaman tajam yang menyasar langsung jantung Istana dan Presiden Prabowo Subianto.
Koordinator Laskar Cinta Jokowi (LCJ), Suhandono Baskoro, merespons keras berkembangnya wacana pemakzulan terhadap Gibran dengan melempar gertakan politik bernada intimidatif: Jika Gibran diturunkan dari jabatannya, maka Presiden Prabowo Subianto pun harus ikut digulingkan!
“Jika Gibran dimakzulkan, Prabowo juga harus tumbang. Keduanya satu paket,” seru Suhandono tegas dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Dalam argumentasinya, Suhandono menegaskan bahwa wacana pemakzulan Gibran tidak bisa dipisahkan dari nasib posisi Prabowo Subianto.
Ia menilai kemenangan pasangan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 bukan sekadar kerja keras pribadi Prabowo maupun kekuatan Partai Gerindra, melainkan sepenuhnya berkat “karpet merah” dan sokongan infrastruktur kekuasaan yang disiapkan Jokowi.
Suhandono bahkan menuding bahwa tanpa restu dan pengaruh politik Jokowi yang membawa Gibran sebagai cawapres, Prabowo dipastikan bakal gagal melenggang ke Istana.
Oleh karena itu, jika legitimasi Gibran gugur akibat ditemukannya kebohongan administrasi ijazah, maka secara logika politik “paket bersama”, keberadaan Prabowo di kursi Presiden pun dinilai harus ikut dinyatakan tidak sah dan terseret jatuh.
Sikap menyerang yang ditunjukkan kubu relawan Jokowi ini dibaca para pengamat sebagai kepanikan puncak dari faksi Solo.
Ketika benteng pertahanan administrasi runtuh total di MK dan bola salju impeachment resmi bergulir melalui surat resmi DPR RI, opsi tersisa bagi kubu pendukung Gibran hanyalah menyandera Presiden Prabowo Subianto.
Ancaman “Prabowo Harus Ikut Tumbang” sejatinya adalah strategi penyanderaan politik: memaksa Prabowo untuk tetap pasang badan membentengi Gibran dari pemakzulan DPR, dengan ancaman akan memicu kekacauan politik nasional jika Gibran dicopot.
Pernyataan menohok dari Laskar Cinta Jokowi ini kian memperjelas betapa beracunnya persekutuan politik yang dibangun di atas fondasi cacat konstitusi.
Prabowo kini secara terbuka disudutkan pada pilihan yang sangat dilematis:
Ikut Terseret dan Lindungi Gibran: Menuruti kehendak kubu Solo dengan pasang badan membela Wapres tanpa ijazah sah, yang berisiko menghancurkan reputasi Prabowo di mata publik dan memicu perlawanan massal dari seluruh elemen rakyat dan DPR.
Lepas Tangan dan Tegakkan Konstitusi: Membiarkan proses impeachment di DPR berjalan sesuai hukum ketatanegaraan (Pasal 7A UUD 1945), sekaligus membersihkan kabinetnya dari sisa-sisa cengkeraman dinasti lama.
Gertakan relawan Solo kini sudah dilayangkan ke meja Istana.
Publik kini menunggu ketegasan sang Presiden: Apakah Prabowo akan membiarkan dirinya disandera oleh dosa administrasi Gibran, ataukah ia berani berdiri tegak memotong benalu kekuasaan demi menyelamatkan wibawa Negara Hukum Republik Indonesia?