DEMOCRAZY.ID – Apresiasi terhadap capaian Presiden ke-7 RI Joko Widodo mengemuka dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 pada Jumat (14/8/2026).
Ketua DPD RI Sultan B Najamudin menyematkan sebutan “Bapak Infrastruktur” kepada Jokowi atas kontribusi besar selama dua periode kepemimpinannya.
Langkah Ketua DPD RI memberikan penghormatan kepada para mantan presiden mendapat sambutan positif dari Anggota DPD RI/MPR RI Daerah Pemilihan Lampung, Bustami Zainudin.
Menurutnya, penyebutan Jokowi sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Indonesia memiliki dasar fakta yang kuat di lapangan.
“Menurut saya, ketika Pak Jokowi disebut sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Indonesia, itu bukan sekadar memberikan julukan. Ada fakta yang bisa kita lihat dan rasakan di lapangan. Hampir di seluruh daerah, masyarakat merasakan hadirnya pembangunan infrastruktur selama beliau memimpin,” ujar Bustami dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).
Pemerataan akses di luar Pulau Jawa menjadi perhatian utama selama era kepemimpinan Jokowi.
Pembangunan fasilitas publik mulai dari jalan tol, jembatan, pelabuhan, bandara, hingga bendungan tidak lagi terpusat di satu wilayah, melainkan didorong untuk memperkuat konektivitas antarwilayah.
Kehadiran infrastruktur pendukung tersebut terbukti ampuh membuka keterisolasian daerah, memperlancar mobilitas warga, menurunkan biaya logistik, serta memacu pertumbuhan ekonomi lokal.
“Sebagai anggota DPD yang mewakili daerah, kami melihat sendiri bagaimana pembangunan infrastruktur memberikan perubahan bagi masyarakat. Ada daerah yang sebelumnya sulit dijangkau, kemudian aksesnya terbuka. Ada sentra produksi yang semakin mudah terhubung dengan pasar. Ini adalah warisan pembangunan yang manfaatnya tidak berhenti ketika sebuah pemerintahan berganti,” kata Bustami.
Ia menuturkan bahwa pemberian penghargaan atas capaian pemimpin masa lalu perlu dipandang dalam konteks kebangsaan.
Pengakuan terhadap karya nyata para pendahulu bukan berarti menutup mata dari kekurangan yang ada, melainkan bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga kesinambungan pembangunan nasional.
“Yang paling penting adalah bagaimana karya yang sudah baik dilanjutkan, disempurnakan, dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat. Pembangunan Indonesia tidak boleh berhenti hanya karena pergantian kepemimpinan. Apa yang sudah menjadi fondasi harus kita rawat dan terus kita kembangkan,” katanya.
Bustami turut mengapresiasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ia berharap pemerintahan saat ini terus memperkuat pembangunan berorientasi pemerataan serta melanjutkan fondasi kokoh yang telah diwariskan.
Sinergi dan kesinambungan ini dinilai membawa semangat baru dalam mempercepat pemerataan kesejahteraan masyarakat di seluruh penjuru pelosok Tanah Air.
“Bagi kami di daerah, pembangunan itu bukan sekadar angka dan statistik. Pembangunan adalah jalan yang bisa dilalui, jembatan yang menghubungkan, irigasi yang menghidupkan pertanian, pelabuhan yang membuka perdagangan, dan akses yang membuat masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk maju,” pungkas Bustami.