

DEMOCRAZY.ID — Medan pertempuran politik menuju Pemilu 2029 mulai membara.
Jurnalis senior dan pengamat politik, Hersubeno Arief, membongkar adanya grand design atau skenario rahasia yang dimainkan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk mempreteli mitos kekebalan politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), khususnya di wilayah basis utama mereka, Jawa Tengah, yang selama ini dikenal sebagai “kandang banteng”.
Menurut Hersubeno, strategi mematikan tersebut dieksekusi dengan menempatkan putra bungsu Jokowi sekaligus Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, bertarung langsung di Daerah Pemilihan (Dapil) V Jawa Tengah—yang meliputi Kota Solo, Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten—pada Pileg 2029 mendatang.
“Selain itu, kita juga bisa menangkap ini ada upaya dari Jokowi—jelas, ya—meruntuhkan mitos invincibility, enggak tersentuh,” ungkap Hersubeno dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Selasa (28/7).
Lebih lanjut, Hersu menilai kalkulasi politik di balik pencalonan Kaesang ini bukan sekadar urusan memenangkan kursi semata.
Ada psychological warfare (perang urat saraf) tingkat tinggi yang sedang diuji di kandang tradisional partai berlambang banteng moncong putih tersebut.
Dalam skenarionya, Kaesang bahkan tidak diwajibkan untuk menumbangkan trah Soekarno sekaligus Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, secara mutlak.
Cukup dengan memberikan perlawanan sengit dan mendulang suara signifikan, mitos keperkasaan PDIP di jantung Jawa Tengah dipastikan bakal runtuh berkeping-keping.
“Jika PSI mampu mengamankan kursi signifikan di dapil ini, atau jika Kaesang—enggak usah menang, enggak usah mengalahkan Puan, ya—dia mendekati perolehan suara Puan saja, hal itu akan meruntuhkan dominasi putra PDIP di Jawa Tengah menjelang kontestasi politik ke depan,” jelasnya.
Ancaman nyata tersebut bukan lagi sekadar wacana di atas kertas.
Kaesang Pangarep secara terbuka telah mendeklarasikan pencalonannya dari Dapil V Jawa Tengah dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026) malam.
Di hadapan para kadernya, Kaesang menegaskan bahwa penugasan teritorial ini menjadi fokus utamanya dalam menyongsong pemilu legislatif mendatang.
Ia bahkan menginstruksikan seluruh barisan kader untuk merapatkan barisan dan menjaga soliditas internal agar tidak terjadi gesekan antar-caleg.
“Pesan yang saya sampaikan tadi bukan pesan saya sebagai ketua umum. Tapi pesan saya sebagai bakal calon legislatif RI Dapil V Jawa Tengah,” tegas Kaesang.
“Insya Allah saya akan membersamai seluruh kader karena teritori yang diberikan kepada saya hanya di Kota Solo,” tambahnya penuh optimisme.
Langkah berani menempatkan Kaesang di basis pertahanan utama lawan menegaskan bahwa pertarungan politik pasca-kekuasaan Jokowi belum juga surut, melainkan bermutasi ke medan elektoral yang lebih terbuka.
Apakah strategi “meruntuhkan kandang banteng” ini akan sukses mengubah peta kekuatan politik nasional, atau justru menjadi blunder fatal bagi dinasti politik Istana?