DEMOCRAZY.ID – Media Singapura mengomentari pernyataan kontroversi Purbaya Yudhi Sadewa sebelum dicopot sebagai menteri keuangan.
Pernyataan itu membuat Menteri Luar Negeri Sugiono harus mengklarifikasinya.
Pada April 2026 lalu, Purbaya telah mengemukakan gagasan untuk mengenakan pungutan pada kapal-kapal yang melewati Selat Malaka, sebagai bagian dari upaya untuk memaksimalkan posisi strategis Indonesia di sepanjang jalur perdagangan dan energi global.
Sehari kemudian, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengatakan bahwa negara tersebut tidak akan melakukan hal itu karena hal tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional.
“Dalam beberapa bulan terakhir, Purbaya harus membantah spekulasi bahwa ia akan mengundurkan diri dari jabatannya di tengah berita tentang pasar yang lesu,” tulis Channel News Asia, Senin (14/9/2026).
CNA juga singgung gaya komunikasi Purbaya yang blak-blakan selama setahun menjadi menteri keuangan.
“Sebelumnya dikenal sebagai seorang teknokrat yang tidak terlalu menonjol dan paling dikenal karena memimpin sebuah lembaga penjaminan simpanan, Purbaya dengan cepat menjadi salah satu wajah yang paling dikenal di pemerintahan dengan gaya yang menurut para pengamat sangat blak-blakan dan tanpa filter,” tulis CNA.
Presiden Prabowo Subianto telah melakukan beberapa perubahan kabinet sejak menjabat hampir dua tahun lalu.
Salah satu yang terbaru adalah pengangkatan Sudaryono pada bulan Juli sebagai kepala Badan Gizi Nasional, yang mengawasi program makan gratis andalan presiden.
Media asing menyebut jika reshuffle kabinet Prabowo Subianto sudah lama ditunggu-tunggu.
Akhirnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dicopot.
Posisi Purbaya digantikan wakilnya, Suahasil Nazara, hanya beberapa jam setelah kembali ke Indonesia dari kunjungan resmi ke India.
Hal itu diulas oleh Straitstimes, Senin (14/9/2026).
“Prabowo menggantikan Menteri Keuangan Purbaya dalam perombakan Kabinet Indonesia yang telah lama ditunggu-tunggu,” begitu judul media itu.
“Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam perombakan kabinet yang telah lama ditunggu-tunggu, menggantikan ekonom yang vokal tersebut dengan wakilnya, Suahasil Nazara, hanya beberapa jam setelah kembali ke Indonesia dari kunjungan resmi ke India,” tulis TST dalam pembuka berita.
Menurut media itu, sebelumnya isu pengunduran diri Purbaya terjadi setelah berbulan-bulan spekulasi mengenai posisinya di tengah kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal Indonesia.
“Ekonom yang sebelumnya memimpin Lembaga Penjaminan Simpanan Indonesia (LKP) ini mengambil alih jabatan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang telah lama menjabat pada September 2025. Ia datang dengan janji untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, dengan alasan bahwa target pertumbuhan tahunan Prabowo sebesar 8 persen dapat dicapai.”
“Namun, pertumbuhan tetap berada di sekitar 5 persen selama masa jabatannya, jauh di bawah target jangka panjang Presiden.”
“Purbaya juga menarik perhatian karena gaya bicaranya yang lugas yang kadang-kadang membuatnya terlibat dalam kontroversi.”
“Pada bulan April, ia menyarankan agar negara-negara yang berbatasan dengan Selat Malaka dapat mempertimbangkan untuk mengenakan biaya kepada kapal yang menggunakan salah satu jalur maritim tersibuk di dunia. Pernyataan tersebut menarik perhatian di seluruh kawasan, mendorong pemerintah untuk mengklarifikasi bahwa Indonesia tidak memiliki rencana untuk mengenakan biaya tersebut dan tetap berkomitmen pada hukum maritim internasional,” tutup Straits Times.
Perombakan ini merupakan perombakan kabinet kelima Prabowo sejak menjabat pada Oktober 2024.