DEMOCRAZY.ID – Gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Prancis pada Oktober 2026 bermula dari aksi lokal pelajar SMA di Creteil, pinggiran Paris, sejak September.
Awalnya, siswa memprotes kekurangan staf pengajar, fasilitas sekolah yang rusak parah—mulai dari kebocoran, langit-langit runtuh, mebel rusak, hingga infestasi tikus—serta ruang kelas yang terlalu padat, jam belajar panjang, suhu ekstrem, dan sistem seleksi kampus Parcoursup yang dianggap tidak adil.
Demo di Prancis cepat menyebar ke Paris, Marseille, Lille, Nantes, dan kota-kota lain, melibatkan ratusan ribu orang.
Pada puncaknya sekitar 17 Oktober, sekitar 550.000 hingga 800.000 demonstran turun ke jalan yang memicu kerusuhan di Prancis.
Apa yang dimulai sebagai tuntutan reformasi pendidikan berubah menjadi gerakan nasional yang lebih luas, menyatukan pelajar, guru, serikat pekerja, gerakan Rompi Kuning (Yellow Vests), pekerja, dan warga kelas menengah-bawah yang merasa tercekik.
demo di prancis makin chaos!
17 oktober kemarin ada demo besar-besaran di sana. tuntutan yang awalnya berasal dari pelajar menjadi meluas, setelah turunnya buruh & pekerja publik. biaya hidup yang tinggi, serta upah yang tidak sebanding menjadi keresahan masyarakat prancis.akibat aksi demo ini, fasilitas umum, serta balai kota di beberapa daerah dibakar. salah satunya balai kota limoges yang udah berusia 143 tahun. 🤯
— dow (@satirnesia) October 18, 2026
Penyebab utama pertama adalah krisis pendidikan yang menahun.
Pemerintah telah memangkas anggaran secara riil selama bertahun-tahun meski jumlah siswa meningkat.
Banyak sekolah kekurangan guru pengganti sehingga siswa kehilangan ratusan jam pelajaran, sementara bangunan bobrok dan overcrowded menjadi normal.
Siswa dan guru menuntut penambahan tenaga pengajar, perbaikan fasilitas, pengurangan jumlah siswa per kelas, serta reformasi sistem penerimaan perguruan tinggi.
Ketika tuntutan ini diabaikan dan respons pemerintah dinilai lamban—meski ada janji tambahan ribuan guru pengganti—kemarahan meluas.
Sayang banget ya, kantor walikota bersejarah berusia lebih dari 140 tahun di Limoges, Prancis, lenyap dikabar warga yg ladi demo
Demo besar pecah di Prancis, 17 Okt 2026, karena kemarahan rakyatnya soal inflasi, harga2 naik, gaji jalan di tempat, utang publik terhadap PDB mengkhawatirkan🎥: Paris Match
— sosmed keras (@sosmedkeras) October 18, 2026
Media lokal menampilkan kondisi memprihatinkan ini, yang kemudian menjadi simbol kegagalan layanan publik secara keseluruhan.
Penyebab kedua yang lebih dominan adalah lonjakan biaya hidup yang memberatkan rakyat.
Inflasi, kenaikan harga bahan bakar sebagian dipicu konflik di Timur Tengah, sewa rumah yang terus naik, serta upah yang stagnan membuat kelas menengah dan bawah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Demonstran, termasuk guru dan pekerja, mengeluhkan bahwa mereka bekerja keras namun tetap hidup dalam kondisi hampir miskin.
Gerakan Rompi Kuning yang pernah heboh pada 2018 kembali aktif, menyerukan aksi bersama pemuda.
Demo di Prancis beda level njirr 😭
Awalnya sebenrnya cuma demi anak SMA, sekarang jalanan udah kayak adegan film perangWarga Prancis kalau turun ke jalan emang nggak setengah-setengah 💀 https://t.co/8QYWnayxTX
Baca Juga— Si Paling Gen Z (@txtdarigenz97) October 19, 2026
Serikat pekerja seperti CGT menuntut kenaikan upah, pensiun yang lebih baik, dan pajak kekayaan bagi orang super kaya.
Kebijakan penghematan anggaran pemerintah sebesar puluhan miliar euro untuk menekan defisit (yang sudah tinggi, utang publik mencapai sekitar 119 persen PDB) semakin memperburuk persepsi bahwa negara lebih memprioritaskan penghematan ketimbang kesejahteraan warga.
Akhirnya, faktor politik dan ketimpangan sosial memperbesar skala aksi.
Dengan pemilihan presiden 2027 yang semakin dekat untuk menggantikan Emmanuel Macron, ketidakpuasan terhadap pemerintahan termasuk PM Sébastien Lecornu memuncak.
Banyak yang merasa politisi tidak mendengar, kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang, dan masa depan generasi muda suram.
Demo di Prancis next level, Beli kembang api kayak gini dimana? https://t.co/yL4lx7U9i7
— 1CAK (@onecak) October 19, 2026
Kombinasi isu pendidikan, ekonomi, dan politik ini menciptakan “payung” besar yang menyatukan berbagai kelompok.
Meski sebagian besar aksi damai, eskalasi menjadi kerusuhan, penjarahan, dan bentrok dengan polisi di beberapa kota menunjukkan kedalaman frustrasi yang terpendam.
Demo di Prancis ini bukan sekadar protes sesaat, melainkan ekspresi akumulasi masalah struktural yang menuntut perubahan nyata dari pemerintah.
Demo besar pecah di Paris dan bberapa kota lain di Prancis, 17 Okt 2026. Pluhan ribu org neriakin “Semua org benci polisi” dan “Macron, mundur”.
Dri Paris sampai Marseille, kantor wali kota ditrobos, fasilitas umum dibakar. Warga, termasuk para pelajar, udah kelewat muak tercekik tingginya biaya hidup dan inflasi yg bikin gaji jalan di tempat ☠️Survei nunjukin 45% warga Prancis muak biaya hidup makin gila. Utang publik Prancis diproyeksi lampaui 120% dari PDB tahun depan.
Sc: CNN
— sosmed keras (@sosmedkeras) October 18, 2026