DEMOCRAZY.ID — Retak di balik dinding kemesraan Istana kini bukan lagi sekadar isapan jempol.
Hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dikabarkan kian merenggang, diwarnai oleh serangkaian sinyal perpisahan politik yang kian terang-terangan diperlihatkan oleh sang wakil presiden.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Indonesia, Ray Rangkuti, blak-blakan membongkar salah satu pemicu utama keretakan tersebut: sikap dan gerak-gerik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilai mulai berseberangan, bahkan terang-terangan menunjukkan gestur yang tidak selaras dengan program prioritas andalan Presiden Prabowo, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Alih-alih mengamankan dan mendefinisikan keberhasilan program mercusuar pemerintahannya, Gibran justru tertangkap basah kerap melakukan safari ke berbagai daerah untuk meninjau langsung para korban dugaan keracunan makanan program MBG.
Tak sekadar menengok, Gibran bahkan sempat melontarkan pernyataan yang memantik polemik dengan menyarankan para siswa agar membawa bekal sendiri ke sekolah—seperti yang ia gaungkan saat melawat ke Batang, Jawa Tengah.
Gibran saat kunjungi siswa SD keracunan di Batang:
“Besok sekolah ya, bawa bekel dari rumah, oke?! MBG jangan dimakan..!”Apakah ini alasan si wowok ngotot mau ganti gibran? karena udah ga akur dan dukung mbg? https://t.co/vfUoIXww9L
— Pocong (@SudutTakKasat) September 29, 2026
Bagi pengamat, langkah ini dibaca sebagai manuver politik yang disengaja.
Di saat pemerintah pusat berupaya meredam isu keracunan dengan narasi defensif atau denial, Gibran justru memilih mengambil panggung pencitraan tandingan demi meraup simpati publik.
“Kalau pemerintah kita ini kan berkesan denial ya, terhadap korban-korban keracunan ini… Nah, di posisi yang berbeda dilakukan oleh Gibran. Artinya kan Gibran itu mau menunjukkan perasaan yang sama dengan yang dihinggapi oleh banyak orang hari ini,” ujar Ray, Selasa (6/10/2026).
Tak hanya lewat lisan, simbol-simbol visual turut berbicara.
Ray menyoroti atribut pakaian hitam yang dikenakan Gibran saat turun ke lapangan di Batang.
Dalam optik komunikasi politik, pilihan busana tersebut dinilai sarat makna, kontras dengan identitas visual Presiden Prabowo yang identik dengan kemeja putih.
“Itulah lanjutan yang saya sebut berpisah. Karena intinya sekarang harus dibuat figur yang berbeda dengan Pak Prabowo. Kalau Pak Prabowo putih, dia hitam,” sentil Ray tajam.
Di tengah meruncingnya gesekan kebijakan dan menjelang detik-detik vonis Mahkamah Konstitusi terkait gugatan diskualifikasi ijazah bernomor perkara 01/PHPU.PRES-XXIV/2026, pergerakan di ring utama kian mencemaskan.
Santer dikabarkan pula bahwa sang mantan presiden, Joko Widodo, mendadak terbang kembali ke Jakarta.
Kehadiran mendadak ini langsung memicu spekulasi liar di tengah publik: Apakah manuver darurat tengah disiapkan di balik layar demi menyelamatkan posisi sang anak dari jurang kejatuhan?
Ketika perpecahan di lingkaran inti kekuasaan semakin kasat mata—ditambah kepungan badai hukum administratif dan ancaman pidana ijazah yang terus bergulir—panggung politik nasional kini berada di ambang letupan besar.
Prabowo dan lingkaran Istana tampaknya kian mantap berjalan di jalurnya sendiri, sementara sisa-sisa pengaruh rezim lama mulai kedodoran menahan terjangan arus sejarah.