Bongkar Skenario Pilpres 2029: Pengamat Ungkap 1 Syarat Mutlak Dedi Mulyadi Bisa Lawan Prabowo!

DEMOCRAZY.ID – Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mulai ikut masuk dalam pembicaraan mengenai bursa Pilpres 2029.

Namun, pengamat politik Adi Prayitno menilai terlalu dini menempatkan Dedi sebagai calon penantang Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Adi, persoalannya bukan sekadar soal popularitas atau elektabilitas Dedi.

Posisi politik Dedi saat ini menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Dedi masih berstatus kader Partai Gerindra.

Ia juga selama ini menyatakan dukungan kepada Prabowo.

“Kalau Dedi Mulyadi, saya selalu mengatakan bahwa memang tidak rasional dan tidak tepat kalau Dedi Mulyadi itu dipersepsikan akan maju, apalagi head-to-head dengan Pak Prabowo Subianto di 2029,” kata Adi dalam tayangan YouTube Adi Prayitno Official, dikutip Kamis (1/10/2026).

Adi mengatakan pembicaraan mengenai kemungkinan Dedi berhadapan langsung dengan Prabowo perlu melihat posisi politiknya saat ini.

Dedi tercatat sebagai kader Gerindra dan Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Gerindra.

Di sisi lain, Dedi juga masih menunjukkan dukungan politik kepada Prabowo.

“Mengingat per hari ini Dedi Mulyadi itu adalah kadernya Gerindra. Per hari ini Dedi Mulyadi selalu mengatakan terus dan tegak lurus bersama Gerindra dan Pak Prabowo Subianto,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Adi menilai sulit membayangkan Dedi maju sebagai kandidat yang berhadapan langsung dengan Prabowo pada Pilpres 2029.

“Sepanjang Dedi Mulyadi itu masih bersama dengan Gerindra, selalu bersama dengan Gerindra mendukung penuh Pak Prabowo Subianto, tak ada jalan ceritanya bagi Dedi Mulyadi untuk bisa maju di 2029,” katanya.

Meski begitu, Adi tidak menutup kemungkinan peta politik berubah.

Skenario Dedi menjadi rival Prabowo baru menurut dia memiliki konteks jika terjadi perubahan mendasar pada posisi politik Dedi.

Salah satunya apabila Dedi tidak lagi berada di Gerindra.

“Baru kemudian bicara tentang peluang, kesempatan, dan sangat mungkin misalnya akan head-to-head dengan Pak Prabowo Subianto,” kata Adi.

Menurut Adi, perubahan status politik Dedi akan membuka ruang untuk membaca ulang peluangnya dalam kontestasi Pilpres 2029.

“Kecuali ada takdir misalnya Pak KDM itu direstui dan disetujui oleh partai-partai koalisi pendukung Prabowo sebagai calon wakil presidennya, tapi bukan dalam konteks dihadap-hadapkan,” ujarnya.

Ia menilai skenario Dedi sebagai cawapres Prabowo berbeda dengan skenario Dedi menjadi penantang Prabowo.

“Beda ceritanya kalau KDM keluar dari Gerindra, baru di situlah kemudian kita akan bicara bagaimana analisa dan peluang-peluangnya,” imbuhnya.

Nama Dedi Mulyadi mulai ramai diperbincangkan dalam dinamika politik menuju 2029.

Namun, Adi mengingatkan popularitas maupun elektabilitas bukan satu-satunya faktor dalam pencalonan presiden.

Hasil survei menggambarkan tingkat dukungan publik pada saat survei dilakukan.

Sementara pencalonan presiden bergantung pada proses politik, konfigurasi partai, koalisi, serta keputusan para elite politik.

Karena itu, tingginya elektabilitas seorang tokoh tidak otomatis membuatnya memperoleh tiket untuk maju sebagai calon presiden.

Dalam konteks Dedi, posisi di Gerindra menjadi salah satu variabel penting.

Selama masih menjadi bagian dari partai tersebut dan mendukung Prabowo, menurut Adi, sulit menempatkannya dalam skenario sebagai rival Prabowo.

Baca Juga:Ikrar Listyo Sigit Sebelum Diganti, Bakal Pimpin Demo Jika Kapolri Penggantinya Tidak Jalankan PesannyaPilpres 2029 masih berada dalam fase awal pembentukan peta politik.

Nama-nama potensial mulai muncul dalam survei dan wacana publik, tetapi belum terdapat keputusan final mengenai pasangan calon yang akan bertarung.

Posisi Dedi pun masih dapat berubah mengikuti perkembangan politik di Gerindra maupun konfigurasi koalisi ke depan.

Untuk saat ini, Adi menempatkan Dedi sebagai kader Gerindra yang masih mendukung Prabowo.

Skenario Dedi menjadi rival Prabowo baru dianggap relevan apabila terjadi perubahan terhadap posisi tersebut.

Artikel terkait lainnya