DEMOCRAZY.ID — Dinamika internal koalisi pemerintahan kian berwarna di tengah berbagai spekulasi mengenai arah dukungan politik menjelang kontestasi nasional mendatang.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai bahwa mantan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) saat ini tengah memperhitungkan secara matang mengenai peluang putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, untuk kembali dicalonkan sebagai wakil presiden mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.
Adi mengingatkan bahwa hingga saat ini usulan agar Gibran kembali mendampingi Prabowo belum menunjukkan respons yang terbuka.
Oleh karena itu, ia tidak menutup kemungkinan bahwa dinamika ke depan dapat memunculkan manuver politik yang berbeda.
“Tentu saja dikalkulasi oleh Pak Jokowi soal kemungkinannya Gibran yang kedua kalinya menjadi calon wakil presiden bagi Prabowo Subianto, mungkin soal kemungkinannya semakin minim tidak semakin terbuka,” ujarnya dalam kanal YouTube Adi Prayitno Official, dikutip Selasa (18/8).
Sebelumnya, dinamika dukungan sempat diwarnai oleh pernyataan Ketua DPP PSI, Bestari Barus, yang menyebut bahwa Jokowi sempat memberikan instruksi khusus kepada partainya untuk mengawal kepemimpinan Prabowo-Gibran hingga dua periode.
Pesan tersebut dikabarkan disampaikan langsung oleh Jokowi ketika jajaran pengurus partai tersebut melakukan pertemuan di Solo pada Kamis (18/6/2026).
“Kepada kami beliau menyampaikan kok bahwa kita itu diminta untuk mengawal Pak Prabowo-Gibran ini, bahkan ya, bahkan, bahkan sampai dua periode. Jadi nggak ada itu fitnahan, fitnahan tentang bakal ada dua matahari. Matahari gimana bisa dua? ada-ada aja,” ungkap Bestari kepada awak media, Jumat (18/6).
Menanggapi berbagai dukungan dan dinamika yang berkembang, Partai Gerindra menyampaikan apresiasi atas perhatian besar yang diberikan oleh mantan presiden terhadap keberlanjutan program pembangunan nasional.
Kendati demikian, dalam berbagai forum konsolidasi internal partai, Gerindra sejauh ini konsisten menggunakan narasi “Prabowo Dua Periode” tanpa secara spesifik menyandingkannya dengan paket kepemimpinan Gibran untuk tahun 2029.
Langkah ini dibaca oleh sejumlah kalangan pengamat sebagai bagian dari strategi politik partai untuk tetap menjaga fleksibilitas di tengah konstelasi nasional yang terus bergerak dinamis.