DEMOCRAZY.ID – Politisi Ferdinand Hutahean mengaku tidak terkejut dengan aksi sekelompok massa yang mendatangi kediaman Eks Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) di Solo.
Menurut Ferdinand, aksi tersebut justru dapat menjadi tanda bahwa demonstrasi serupa akan semakin sering terjadi ke depannya.
Ferdinand mengaku telah mengetahui informasi mengenai rencana kehadiran massa tersebut.
Namun, ia memilih tidak mengungkapkan siapa pihak maupun kelompok yang berada di balik aksi tersebut.
Menurutnya, jumlah massa yang datang memang relatif kecil.
kerumunan di depan gang dekat rumah Jokowi di Solo. Di lokasi itu, massa aksi demo dan massa pendukung Jokowi sempat saling berhadapan dan tegang.
Pendemo dihadang pendukung yang juga sedang melakukan aksi protes. Suasana terlihat ramai, ada bendera merah-putih, poster, dan… pic.twitter.com/quwl9v9Off— Jawa (@independentjawa) September 10, 2026
Meski begitu, ia melihat ada hal yang lebih penting dari sekadar jumlah peserta aksi.
Ia menilai masyarakat mulai semakin memahami sosok Jokowi dan perjalanan politik mantan Presiden tersebut.
“Yang mau kita lihat adalah bahwa hal seperti ini ke depan akan banyak terjadi karena masyarakat semakin paham, semakin tahu dia yang sesungguhnya,” ujarnya, dikutip Sabtu (12/9/2026).
Ferdinand menilai kesadaran masyarakat tersebut berpotensi mendorong munculnya aksi-aksi politik lainnya.
Ia menyebut apa yang terjadi di depan rumah Jokowi bukan sekadar demonstrasi biasa, tetapi bagian dari bentuk perlawanan politik.
Namun, Ferdinand menegaskan bahwa bentuk perlawanan yang dimaksudnya saat ini belum mengarah pada kekerasan fisik.
Yang demo cuma 25 orang yang hadang sampai ratusan pendukung dan kader PSI.
Takut amat pak @jokowi 😂
Padahal mereka sudah bilang datang dengan damai.
Senang amat benturkan sesama anak bangsa, Firaun aja nggak sampai seperti ini.🥱 pic.twitter.com/TRfK1yOKAN— Chusnul ch💞timah (@ch_chotimah2) September 10, 2026
“Mereka baru meminta dia untuk tidak cawe-cawe dalam politik nasional. Mereka belum melakukan kekerasan politik, saya bicara tentang kekerasan politik, bukan kekerasan fisik,” katanya.
Menurut Ferdinand, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan penolakan terhadap keterlibatan mantan presiden dalam dinamika politik nasional selama dilakukan tanpa kekerasan.
Sebelumnya, Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak (ARIB) diketahui datang membawa sejumlah perlengkapan aksi, termasuk berbagai tulisan yang dibawa massa menyoroti isu politik dan kekuasaan yang dikaitkan dengan mantan presiden tersebut.
Beberapa poster bahkan menggunakan narasi keras seperti “Jokowi Jongos Oligarki”, “Jokowi Power Syndrome”, serta “Jokowi dan Dinasti Haus Kuasa”.
Ada pula poster bertuliskan “Bubarkan Geng Solo dan Dinasti Jokowi”, “Jokowi Melanggar Konstitusi”, “Jokowi Pembohong”, hingga “Jokowi Perusak PDIP”.
Rumah Jokowi di demo pic.twitter.com/FgUf3q3qxc
— 🅰️𝕣𝕜𝕒𝕟𝕒_🅱️𝕦𝕒𝕟𝕒 (@Arkana_Buana2) September 10, 2026
Koordinator Aksi Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak, Bangun Sutoto mengatakan kedatangan mereka berkaitan dengan pernyataan mengenai dugaan makar yang disebut pernah disampaikan Budi Arie.
Menurut Bangun, Jokowi perlu menerima respons atas persoalan tersebut.
“Kami ingin menyampaikan sepucuk surat dan satu buah plakat untuk Bapak Jokowi karena menurut kami Bapak Jokowi belum lama ini duduk di sebelah kiri saudara Budi Arie yang menyampaikan indikasi adanya makar. Karena itu kami sebagai anak bangsa mewakili seluruh rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam,” ujar Bangun.
Yg demo di depan rumah pak Jokowi dihadang ibuk2…salute dh…👍👍🤩🤩 pic.twitter.com/ZSPyrbWiPW
— 🐧𝖒𝖇𝖎𝖊🐬 (@mbienyambay2) September 10, 2026