Sudah Tak Bisa Dipercaya, Pengamat Sindir Tajam Jokowi: Ingat Rumusnya Kalau Lihat Dia Bicara, Sen Kanan Belok Kiri!

DEMOCRAZY.ID – Pegiat media sosial, Chusnul Chotimah kembali menyorot tajam terkait mantan Presiden Joko Widodo.

Yang disorotnya dalam cuitan terbarunya di media sosial X membahas soal pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh Jokowi.

Menurut Chusnul Chotimah ada rumus penting dan perlu untuk diterapkan jika melihat mantan Presiden Ketujuh RI itu berbicara.

Pernyataannya ini berupa sindiran keras pada apapun yang dilontarkan oleh Jokowi.

Ia menyebut bicara soal apapun itu sudah sebaiknya tidak perlu didengarkan.

“Ingat rumusnya kalo lihat Jokowi bicara, sen kanan belok kiri,” tulis Chusnul Chotimah dikutip Rabu (26/8).

Tidak Bisa Dipercaya?

Ada banyak hal yang membuat apapun yang dibicarakan oleh Jokowi ini disebutnya sudah tidak perlu bahkan tidak bisa dipercaya lagi.

Mulai dari bantahannya yang tidak ingin melanggengkan dinasti politik di Indonesia.

Namun nyatanya, anaknya Gibran Rakabuming Raka saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden.

Belum lagi anak yang satunya justru menjadi petinggi Partai dan punya potensi besar menyusul saudaranya.

Bantahan lainnya soal sosok Gibran Rakabuming Raka yang digadang-gadang dipersiapkan untuk jadi salah satu kandidat Presiden di Pemilu 2029.

Jokowi terkait rumor ini selalu memberikan bantahan. Hanya saja, selalu ada gerakan-gerakan yang dilakukan yang mendorong hal ini terjadi.

Satu hal lainnya yang selalu dibantah oleh Presiden dua periode ini adalah keinginannya untuk menjabat sampai tiga periode.

Memang hal itu gagal terwujud dan Jokowi hanya berhenti di dua periode. Di balik layar, ia justru dikenal sebagai seseorang yang paling gila kekuasaan.

Pernyataan Budi Arie

Terbaru, Budi Arie Setiadi sudah berani bicara soal kemungkinan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak bertahan hingga 2029.

Dalam pernyataannya, Budi Arie berharap tidak dijadikan narasi untuk membangun spekulasi politik.

Di video yang beredar, Budi Arie disebut menyampaikan kepada Jokowi bahwa berdasarkan insting atau feeling-nya, situasi politik saat ini ‘kayaknya enggak sampai 2029’.

Budi Arie juga menyebut istilah ‘patahan sejarah’ untuk menggambarkan kemungkinan perubahan politik yang lebih cepat.

“Tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’ Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029,” kata Budi dalam video tersebut.

Ia kemudian melontarkan pertanyaan kepada para peserta mengenai kemungkinan terjadinya percepatan.

“Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, gak?” ujarnya.

Peserta yang hadir kemudian menjawab, “Siap!”

Budi dalam kesempatan ini kemudian mengaitkan kemungkinan tersebut dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Ia juga menyinggung pengalaman Reformasi 1998 sebagai contoh perubahan politik yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan.

Menurut Budi, keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi dapat menjadi variabel yang memengaruhi dinamika politik nasional.

Artikel terkait lainnya