DEMOCRAZY.ID — Kalkulasi politik dan dinamika suksesi kepemimpinan nasional terus memancing berbagai analisis tajam dari para akademisi, termasuk dari kalangan perguruan tinggi.
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Henri Subiakto, mengungkapkan pandangannya bahwa sosok yang dinilai paling krusial sekaligus mendatangkan kerentanan tersendiri bagi Presiden Prabowo Subianto bukanlah tokoh dari kubu oposisi, melainkan figur yang berada di dalam lingkaran istana sendiri.
Menurut Henri, dinamika tersebut berkaitan erat dengan mekanisme ketatanegaraan.
Apabila terjadi situasi darurat di tengah masa jabatan yang menyebabkan presiden berhalangan tetap, maka secara konstitusional estafet kepemimpinan akan otomatis beralih kepada wakil presiden.
“Kalau ada kemudian ada demo besar atau ada kerusuhan, Pak Prabow lah yang akan jatuh. Dan secara konstitusional kan kalau Pak Prabowo ada apa-apa secara konstitusional siapa penggantinya? ya pasti wakil presiden,” ujarnya dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Jumat (21/8).
Dalam kalkulasi politik tersebut, ia menilai bahwa posisi wakil presiden menghadirkan lanskap tersendiri di dalam peta kekuasaan tertinggi.
“Artinya kan sebenarnya dalam konteks tertentu ya orang yang paling berbahaya bagi Pak Prabowo itu naiknya wakil presiden. Bukan orang lain,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Henri turut menyinggung figur-figur dari luar pemerintahan seperti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo.
Menurut analisisnya, tokoh-tokoh oposisi tersebut tidak berada dalam posisi yang langsung diuntungkan apabila terjadi pergolakan kekuasaan di tengah jalan, sebab proses pergantian kepemimpinan melalui jalur konstitusional pasca-berhalangan tetap tidak otomatis mendudukkan mereka ke kursi kepresidenan tanpa melalui pemilu dari awal.
“Anies enggak bisa jadi presiden. Harus lewat proses pemilu lagi atau Ganjar juga sama saja. Atau yang lain sama saja,” jelasnya.
Sebagai perbandingan historis, ia merujuk pada dinamika peralihan kekuasaan di masa lalu ketika Presiden RI ke-2 Soeharto digantikan oleh wakil presiden yang menjabat saat itu.
“Nah, makanya kalau ada apa-apa dengan Pak Prabowo sebenarnya yang mendapatkan keuntungan itu ya Solo gitu loh,” katanya.
Oleh karena itu, Henri menilai bahwa kelompok masyarakat atau publik yang kerap melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan sering kali berada dalam posisi yang dilematis, karena eskalasi tekanan politik yang berlebihan dikhawatirkan justru berpotensi menguntungkan poros kekuatan dari lingkaran istana sebelumnya.
[FULL VIDEO]