DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Adi Prayitno memberikan sejumlah analisisnya terkait posisi duduk Presiden Prabowo Subianto, diapit Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka.
Peristiwa itu terjadi saat ketiganya melihat hiburan seusai Upacara Peringatan Kemerdekaan ke-81 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8).
Adi Prayitno mengatakan posisi duduk Prabowo yang diapit Jokowi dan Gibran, merupakan chemistry yang tidak bisa dibantah.
Dia menyampaikan peristiwa itu membantah spekulasi publik yang menyebut hubungan ketiganya tidak baik-baik saja.
Adi mengungkapkan spekulasi publik itu muncul, karena posisi duduk Gibran tidak di samping Prabowo saat rapat kabinet.
“Gestur Pak Prabowo, Jokowi, dan Gibran, terlihat sangat bahagia. Ini menegaskan hubungan politik ketiganya, baik-baik saja,” katanya, dikutip dari akun Youtube pribadinya, Rabu (19/8).
Adi mengungkapkan ada banyak hal yang membuat sedikit rasional mengenai munculnya persepsi hubungan politik Prabowo, Jokowi, dan Gibran, tidak baik-baik saja.
Dia menyebut peran politik Gibran tidak begitu terlihat di permukaan, setidaknya sejak awal 2026.
Adi mengatakan publik belum melihat Wapres Gibran memberi posisi politiknya, di tengah situasi politik internasional maupun dalam negeri.
“Salah satu contohnya, kebijakan bergabungnya Indonesia dalam BoP yang ada Amerika Serikat dan Israel. Publik tidak melihat narasi yang dibangun Mas Gibran,” ujarnya.
Adi mengatakan dalam teori komunikasi politik, minimal panggung depan terlihat ada bhubungan saling hangat, meski di belakang tidak ada yang tahu.
Dia menyinggung kemungkinan Jokowi bermanuver mengusung Gibran di Pilpres 2029, jika proposal politik tidak diterima Prabowo Subianto.
Proposal politik Jokowi, yakni mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode.
“Bukan tidak mungkin Pak Jokowi menyiapkan banyak strategi politik agar Gibran maju, sekalipun harus berhadapan dengan Prabowo,” ucapnya.