Analisis Tajam Pengamat Politik: Bulan Oktober Jadi Ronde Terakhir Penentuan Nasib Pemerintahan Prabowo, Apakah K.O atau Menang Angka

DEMOCRAZY.IDAktivis senior Muhammad Said Didu kembali melontarkan analisis dan pandangan kritisnya mengenai dinamika relokasi kekuasaan serta konstelasi politik yang tengah berlangsung di dalam lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam wawancara mendalam melalui kanal siniar Abraham Samad SPEAK UP, Said Didu menyoroti berbagai indikasi ketegangan internal serta upaya tarik-menarik pengaruh politik yang dinilainya kian kasat mata.

Analisis “Kudeta Senyap” dan Tenggat Waktu Oktober 2026

Menurut Said Didu, mantan Presiden Joko Widodo dinilai tidak pernah sepenuhnya melepaskan kendali kekuasaannya, termasuk kepada pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.

Ia bahkan melontarkan estimasi bahwa Prabowo seolah-olah hanya “diberi waktu” terbatas sekitar dua tahun atau hingga Oktober 2026 dalam mengelola pemerintahan sebelum menghadapi turbulensi politik yang lebih besar.

Said mendefinisikan gejala pelemahan terhadap posisi Prabowo ini sebagai bentuk silent and creeping coup atau “kudeta senyap” yang berjalan secara sistematis dari dalam struktur pemerintahan itu sendiri.

Sabotase struktural tersebut, sebutnya, turut terbaca melalui dinamika kebijakan hingga peran sejumlah menteri di kabinet.

“Targetnya Oktober 2026, ini ronde terakhir, apakah KO atau menang angka,” ungkap Said Didu.

Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung istilah “segitiga SSB” (Singapore-Solo-Bandung) yang dianalisisnya tengah mengonsolidasikan langkah-langkah politik tertentu dalam konstelasi nasional.

Sorotan Terhadap Kasus Hukum dan Eskalasi Politik Menjelang Oktober

Selain menyoroti peta kekuatan elit, Said turut mengulas kasus hukum yang melibatkan Febri Adriansyah.

Ia memandang perkara tersebut tidak sekadar dilihat dari kacamata tindak pidana korupsi murni, melainkan turut membawa dimensi pertarungan politik yang cukup luas.

Tanpa bermaksud membela pihak tertentu, ia mengingatkan adanya potensi narasi kasus yang ditarik untuk mendiskreditkan figur-figur penting di lingkaran Istana, termasuk posisi Presiden Prabowo maupun Jaksa Agung.

Mendekati periode eskalasi politik yang diprediksi mencapai titik krusial pada Agustus hingga Oktober 2026, Said menilai bulan-bulan mendatang akan menjadi ujian berat sekaligus penentu stabilitas nasional.

Kemampuan Presiden Prabowo dalam memegang kendali penuh atas komando pemerintahan dinilai akan menjadi kunci utama untuk meredam berbagai tekanan struktural tersebut.

Artikel terkait lainnya