Roy Suryo Bongkar Fakta Mengejutkan: 99,9 Persen Ijazah Asli Gibran Itu Tidak Ada!

DEMOCRAZY.ID – Sayembara berhadiah Rp250 juta yang digelar pakar hukum tata negara, Prof Denny Indrayana, terkait ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih menjadi sorotan publik.

Tersangka dalam perkara dugaan fitnah terkait ijazah palsu Jokowi, Roy Suryo, bahkan meyakini hampir tidak ada pihak yang akan berhasil memenangkan sayembara tersebut.

Roy menyebut peluang sayembara itu berakhir tanpa pemenang mencapai 99,9 persen.

Ia mengaitkan keyakinannya tersebut dengan penelitian yang menurut pengakuannya pernah dilakukan di University of Technology Sydney (UTS).

Roy Sebut Sayembara Denny Sulit Dimenangkan

Roy mengatakan sayembara yang dibuat Denny Indrayana menarik perhatian publik.

Namun, menurutnya, tantangan tersebut tidak akan menghasilkan pemenang karena ia meyakini dokumen pendidikan Gibran yang dimaksud dalam sayembara tidak tersedia.

“Mengapa sayembara ijazah SMA Gibran Rp250 juta oleh Prof Denny Indrayana saya yakin 99,9 persen tidak akan ada pemenangnya?” ujar Roy, Sabtu (15/8/2026).

Ia kemudian menjelaskan mengenai sayembara yang ditawarkan Denny kepada publik.

“Mantan WamenkumHAM Prof Denny Indrayana hari-hari ini membuat sayembara cukup menarik,” kata Roy.

“Siapa yang bisa menunjukkan ijazah SMA atau sederajat (asli) milik Wapres Gibran Rakabuming Raka (GRR) akan mendapatkan hadiah senilai Rp250 juta,” tambahnya.

Roy mengaku berani menyimpulkan tidak akan ada pemenang karena meyakini Gibran tidak memiliki ijazah SMA seperti yang dipersyaratkan dalam sayembara tersebut.

Merujuk pada Penelitian di Kampus UTS

Roy kemudian kembali merujuk pada hasil penelitian yang menurut pengakuannya pernah dilakukan saat berada di kampus UTS.

“Ini berdasar hasil penelitian saya langsung saat berada di Kampus UTS (University of Technology Sydney) beberapa waktu lalu yang jelas membuktikan bahwa hal tersebut memang tidak pernah ada,” jelasnya.

Roy juga mempersoalkan dokumen penyetaraan pendidikan yang dikaitkan dengan Gibran.

Ia bahkan menyampaikan dugaan mengenai keaslian dokumen tersebut.

“Bahkan Surat Keterangan Penyetaraan Ijazah versi Dirjen Dikdasmen sangat bisa diprediksikan adalah 99,9 persen palsu juga (seperti ijazah ayahnya),” tukasnya.

Lebih lanjut, Roy berpendapat bahwa penerbitan surat keterangan penyetaraan pendidikan seharusnya melalui sejumlah persyaratan.

“Karena seharusnya hanya bisa diperoleh jika memenuhi semua syarat yang harus dipenuhi, bukan hanya selembar ijazah atau sertifikat,” ucapnya.

Roy Siap Beri Penjelasan Jika Diperlukan

Roy menyebut sayembara tersebut semakin memperkuat langkah yang dilakukan Subhan Palal dan Mercy Sihombing melalui jalur hukum.

“Sayembara Prof Denny Indrayana ini memang menarik, makin menguatkan upaya yang dilakukan juga oleh Pak Subhan Palal dan Bu Mercy Sihombing melalui PN Jakarta Pusat dan PTUN,” terangnya.

Roy mengatakan proses tersebut berkaitan dengan dugaan persoalan pemenuhan syarat pendidikan bagi Gibran.

“Di mana hasilnya adalah sebuah pelanggaran syarat pendidikan, tidak memiliki ijazah setingkat SMA yang sah, bagi seorang Wakil Presiden yang implikasinya bisa berujung ke pemakzulan GRR tersebut,” bebernya.

Lebih jauh, Roy menyatakan memiliki bukti yang menurutnya dapat digunakan untuk menjelaskan lebih lanjut klaim mengenai latar belakang pendidikan Gibran.

“Apabila diperlukan penjelasan yang lebih detail dan bukti-bukti otentik berdasarkan hasil penelitian primer dengan bukti empiris saya selanjutnya, silakan kontak lebih lanjut,” kuncinya.

Dian Sandi Utama Soroti Objek Sayembara

Sebelumnya, Dian Sandi Utama juga menyoroti sayembara tersebut. Ia menilai sejak awal objek yang diminta dalam sayembara tidak sesuai dengan dokumen pendidikan yang selama ini dipersoalkan.

Menurut Dian, kondisi tersebut seperti seseorang menawarkan hadiah, tetapi meminta orang lain mencari sesuatu yang menurutnya memang tidak ada.

Dian secara khusus mempertanyakan syarat sayembara yang meminta masyarakat menunjukkan ijazah SMA Gibran.

Menurut dia, dokumen tersebut tidak akan ditemukan apabila yang dicari adalah ijazah SMA dalam pengertian sebagaimana dipersyaratkan dalam sayembara.

“Barang tidak ada disayembarakan, itu seperti mau ngasih duit tapi disuruh nyari telur kambing!” ujar Dian, Jumat (14/8/2026).

Dokumen Pendidikan Gibran Kembali Dipersoalkan

Dian kemudian menyinggung sejumlah dokumen pendidikan Gibran yang sebelumnya telah menjadi bagian dari polemik di ruang publik.

Ia menyebut dokumen dari Orchid Park Secondary School maupun UTS Insearch pernah ditunjukkan, tetapi masing-masing kemudian kembali dipersoalkan.

“Ditunjukkan dari Orchid Park, dibilang setara SMP. Ditunjukkan dari UTS Insearch, dibilang setara kursus,” tukasnya.

Karena itu, Dian kembali mempertanyakan objek yang sebenarnya ingin dicari melalui sayembara tersebut.

Sentil Ciri Negara Berkembang

Dian menilai polemik yang terus berulang tersebut menunjukkan persoalan yang menurutnya tidak semestinya terjadi.

Ia bahkan menyindir kondisi tersebut sebagai karakteristik yang kerap muncul di negara berkembang.

“Emang ciri negara berkembang!” tegasnya.

Dian menegaskan, apabila yang secara spesifik dicantumkan dalam sayembara adalah pencarian ijazah SMA, maka dokumen tersebut menurutnya memang tidak tersedia sebagaimana yang dimaksud.

“Sayembaranya tertulis ijazah SMA, ya memang tidak ada,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya