MIRIS! Wakil Presiden RI Ini Ngaku Tak Bisa Bayar Pajak Hingga Listrik Rumah Nyaris Diputus

DEMOCRAZY.ID – Pejabat biasanya identik dengan kehidupan yang serba berkecukupan.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi mantan pejabat dan Wakil Presiden RI Mohammad Hatta.

Setelah pensiun dari pemerintahan, Hatta yang lahir hari ini 124 tahun lalu justru kesulitan membayar berbagai tagihan, termasuk listrik, air, dan pajak mobil.

Kesulitan tersebut dialami Hatta setelah mundur dari pemerintahan pada 1957.

Mengutip biografi Hatta: Jejak yang  Melampaui Zaman (2010), Hatta mengaku penghasilannya sebagai pensiunan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Pria asal Minang itu bahkan tak mampu melunasi pajak mobil yang dibelinya dengan subsidi pemerintah.

Tagihan listrik, gas, dan air minum juga menjadi beban yang sulit dibayar.

Masalah serupa terjadi pada telepon di vilanya di Mega Mendung.

Hatta tidak sanggup mengangsur uang jaminan telepon karena jumlahnya berkali-kali lipat dari uang pensiun yang diterimanya.

Dia pun pasrah jika sambungan teleponnya dicabut. Hal itu disampaikannya melalui surat kepada Direktur Jenderal Pos, Telegraf, dan Telepon.

“Terserahlah kalau telepon mau dicabut,” kata Hatta melalui surat tersebut.

Sebagai pensiunan, Hatta mengaku hanya menerima “sumbangan lauk-pauk” sebesar Rp1.000 per bulan. Nominal tersebut membuatnya merasa prihatin.

Kepada Menteri Urusan Anggaran Negara, Hatta bahkan mempertanyakan kondisi tersebut.

“Apakah ini bukan suatu penghinaan kepada RI?” katanya.

“Makanan kucing saya saja tidak akan kurang dari sebegitu sebulan.”

Kesulitan ekonomi itu terjadi ketika kondisi perekonomian Indonesia juga sedang memburuk.

Hatta menilai keadaan tersebut semakin jauh dari cita-cita sosialisme yang selama ini digaungkan pemerintah.

“Kemerosotan penghidupan rakyat, yang belum ada taranya dalam sejarah Indonesia, lebih dahsyat daripada masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang,” tegas Hatta dalam suratnya, dikutip dari Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta Kepada Presiden Sukarno 1957-1965 (1988).

Bagi Hatta, cita-cita sosialisme sebenarnya sederhana, yakni bagaimana membuat biaya hidup rakyat menjadi lebih murah.

Namun, di tengah kondisi tersebut, dia sendiri harus menjalani kehidupan dengan serba pas-pasan.

Putrinya, Rahmi, bahkan pernah memiliki ide menyediakan kotak uang bagi para tamu yang datang ke rumah mereka.

Namun, Hatta langsung marah ketika mendengar ide tersebut.

Dalam Pribadi Manusia Hatta (2002), Rahmi diceritakan ingin melakukan hal itu karena melihat kondisi ekonomi keluarganya.

agi Hatta, tindakan tersebut sama saja dengan meminta-minta.

Melihat kondisi Hatta, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin merasa prihatin.

Dalam autobiografinya Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi (2012), Ali menceritakan upayanya membantu sang proklamator yang tak mampu membayar tagihan listrik dan air hingga mau diputus.

Alhasil, atas nama Gubernur DKI Jakarta, seluruh tagihan rumah Hatta kemudian ditanggung Pemerintah DKI Jakarta, termasuk listrik dan air.

Namun, Hatta tidak mau menjadikan semua itu keistimewaan.

Saat mulai sakit-sakitan di dekade 1980-an, Hatta merasa tidak nyaman menggunakan dana negara untuk kepentingan pribadinya.

Dia kemudian menggunakan tabungannya sendiri untuk mengembalikan biaya perjalanan dan perawatan di Belanda kepada negara.

Pemerintah menolak pengembalian itu, tetapi Hatta tetap bersikeras melunasi seluruh pengeluaran negara.

Artikel terkait lainnya