

DEMOCRAZY.ID — Memoar pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, kembali menjadi sorotan publik setelah kutipan-kutipan mengenai Presiden RI Prabowo Subianto dari bukunya yang berjudul From Third World to First: The Singapore Story: 1965–2000 beredar luas di media sosial.
Buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2000 ini memuat berbagai pengamatan Lee terhadap dinamika politik Indonesia menjelang kejatuhan Presiden Soeharto pada tahun 1998.
Dalam buku tersebut, tepatnya pada halaman 316, Lee Kuan Yew menuliskan pengamatannya ketika mengulas keputusan Presiden Soeharto yang mengangkat Prabowo sebagai Panglima Kostrad di tengah pergolakan politik.
Berdasarkan catatannya, Soeharto mengetahui bahwa Prabowo merupakan sosok yang “bright and ambitious, but impetuous and rash” atau “cerdas dan ambisius, tetapi impulsif dan gegabah.”
Lee juga mengisahkan sejumlah pertemuannya dengan Prabowo pada tahun 1996, 1997, hingga Februari 1998.
Dalam memoarnya, ia mencatat bahwa Prabowo sempat menyampaikan kekhawatiran terkait potensi kerusuhan yang dapat mengancam warga keturunan Tionghoa di Indonesia jika situasi politik semakin memburuk.
Menanggapi hal tersebut, Lee mengaku sempat mempertanyakan alasan di balik penyampaian pesan tersebut.
Pada halaman berikutnya, Lee menuliskan cerita dari mantan Wakil Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Admiral William Owens, mengenai percakapannya dengan Prabowo pada Mei 1998.
Dari cerita tersebut serta penilaian pribadinya, Lee menyematkan pandangan bahwa Prabowo memiliki sifat yang “reckless” atau cenderung nekat.
Selain karakter kepemimpinan, memoar tersebut juga menyinggung pandangan Lee Kuan Yew mengenai kerusuhan Mei 1998.
Dalam bukunya, ia menyebutkan bahwa saat itu telah menjadi “pengetahuan umum” (general knowledge) bahwa kerusuhan tersebut direkayasa oleh orang-orang di sekitar Prabowo guna menunjukkan ketidakmampuan Panglima ABRI saat itu, Jenderal Wiranto.
Catatan ini merupakan opini dan penilaian pribadi Lee Kuan Yew yang hingga kini kerap menjadi bagian dari perdebatan panjang mengenai sejarah peristiwa 1998.
From Third World to First sendiri merupakan jilid kedua dari memoar Lee Kuan Yew yang mendokumentasikan perjalanan pembangunan Singapura sekaligus memuat sudut pandang serta catatan pribadinya terhadap berbagai pemimpin dunia dan dinamika politik internasional, termasuk masa transisi Reformasi di Indonesia.