

DEMOCRAZY.ID – Nama Elda Putri Rahardini tengah menjadi sorotan publik setelah komentarnya di media sosial terhadap Yurizal Tri Chaerawan menuai kecaman.
Elda diketahui merupakan dokter yang tengah mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.
Sorotan terhadap Elda semakin besar setelah RSUP Dr. Sardjito mengambil langkah menonaktifkannya dari kegiatan pendidikan.
Keputusan tersebut berkaitan dengan komentar yang ditulisnya ketika menanggapi unggahan Yurizal mengenai pengalamannya mendapatkan pelayanan kesehatan.
Di tengah polemik tersebut, latar belakang pendidikan Elda Putri Rahardini turut menjadi perhatian.
Dokter tersebut diketahui memiliki perjalanan akademik yang cukup panjang, termasuk menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga melanjutkan studi doktoral di Jepang.
Berdasarkan profil profesional yang tersedia, Elda Putri Rahardini merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Ia menempuh pendidikan Doctor of Medicine (M.D.) di UGM pada 2008 hingga 2014 dan tercatat menyelesaikan pendidikan tersebut dengan predikat cumlaude.
Selama masa pendidikan, Elda juga tercatat memiliki pengalaman penelitian.
Salah satu karya akademiknya membahas hubungan tahapan hipertensi dengan kadar vascular endothelial growth factor (VEGF) pada pasien dewasa di RSUP Dr. Sardjito. Penelitian tersebut tercatat sebagai karya ilmiah tingkat sarjana.
Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, perjalanan akademik Elda berlanjut ke luar negeri.
Elda kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Kobe University, Jepang.
Berdasarkan profil profesionalnya, ia menempuh Doctor of Philosophy (Ph.D.) dengan fokus pada Cardiovascular Science atau ilmu kardiovaskular pada 2015 hingga 2019.
Sementara itu, profil pribadinya menyebut bahwa pendidikan doktoral tersebut berkaitan dengan bidang ilmu kedokteran dan ditempuh setelah mendapatkan beasiswa Monbukagakusho atau MEXT dari pemerintah Jepang.
Kiprahnya dalam bidang penelitian juga terlihat dari sejumlah publikasi ilmiah yang mencantumkan namanya sebagai salah satu peneliti.
Salah satunya penelitian mengenai peran FAM13A dalam proses yang berkaitan dengan hipertensi pulmonal dan perubahan seluler. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2020.
Selain memiliki pengalaman akademik di Jepang, Elda juga diketahui pernah menjadi penerima beasiswa Monbukagakusho/MEXT.
Profil profesionalnya mencatat status tersebut pada periode pendidikannya di Jepang.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral, Elda kembali berkegiatan di Indonesia.
Profil pribadinya menyebut dirinya sebagai penerima beasiswa LPDP untuk pendidikan residensi Ilmu Penyakit Dalam.
Profil profesional Elda juga mencantumkan status sebagai LPDP awardee serta pengalaman sebagai dokter umum dan peneliti.
Ia pernah bekerja sebagai general practitioner di Klinik Rumah Sehat Universitas Gadjah Mada serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penelitian klinis di RSUP Dr. Sardjito.
Selain perjalanan pendidikan yang panjang, Elda juga tercatat memperoleh sejumlah penghargaan dalam bidang akademik dan penelitian.
Salah satunya adalah penghargaan Best Systematic Review dalam The 20th Congress of Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) yang berlangsung di Yogyakarta pada 2025.
Ia juga tercatat pernah memperoleh penghargaan presentasi dalam forum ilmiah respirasi tingkat Asia Pasifik.
Dengan latar belakang pendidikan dan penelitian tersebut, nama Elda sebelumnya lebih dikenal dalam lingkup akademik dan kedokteran.
Namun, perhatian publik terhadap dirinya berubah setelah komentar di media sosial terkait Yurizal menjadi viral.
Polemik bermula ketika Yurizal menuliskan pengalamannya menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan ruangan perawatan.
Unggahan tersebut kemudian menjadi perhatian warganet karena di tengah keluhan mengenai layanan kesehatan, muncul sejumlah komentar dari tenaga kesehatan yang dinilai tidak menunjukkan empati.
“8 jam belum dapat ruangan, gamau spill RSnya soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal pada akun Threads miliknya.
Elda kemudian ikut memberikan komentar yang menuai kecaman. Melalui akun media sosial @erudarahaadini, ia menulis: “PPnya kayak orang have tapi aslinya haven’t kah? Haven’t some brain cells,” tulis Elda melalui akun @erudarahaadini.
Komentar tersebut kemudian menyebar luas di media sosial.
Publik menilai pernyataan itu tidak pantas disampaikan, terlebih Elda diketahui sedang menjalani pendidikan sebagai dokter spesialis.
Setelah mendapat kritik luas, Elda menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Yurizal dan masyarakat.
Ia mengakui bahwa komentar yang dibuatnya tidak pantas dan tidak mencerminkan nilai empati yang seharusnya dimiliki seorang tenaga kesehatan.
“Saya Elda Putri Rahardini. Dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, dan penyesalan yang mendalam ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar almarhum Yurizal, teman-teman, kerabat, serta seluruh masyarakat luas.Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati. Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi almarhum saat mencari penanganan medis,” tulis Elda Putri Rahardini pada akun media sosialnya, @erudarahaardini.
Ia juga menyinggung tanggung jawab moral sebagai dokter serta statusnya sebagai penerima beasiswa LPDP.
“Sebagai seorang dokter dan tenaga kesehatan, saya seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan empat yang tinggi kepada siapapun. Saya sangat menyesali bahwa tindakan saya sama sekali tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran maupun etika dan moral yang seharusnya saya junjung tinggi, baik sebagai seorang individu, alumni institusi pendidikan, maupun penerima beasiswa LPDP,” jelasnya.