

DEMOCRAZY.ID – Aktris, penyanyi, sekaligus aktivis Cinta Laura angkat bicara terkait meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan, pasien peserta BPJS Kesehatan yang kisahnya viral di media sosial.
Sebelum meninggal dunia, Yurizal melalui akun Threads @yurizaltrich mengaku telah menunggu selama delapan jam, tetapi belum juga mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit.
“8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pakai BPJS,” tulis Yurizal.
Unggahan tersebut kemudian viral dan memicu beragam tanggapan. Namun, tidak sedikit komentar yang dinilai minim empati, termasuk yang diduga berasal dari tenaga kesehatan.
Melalui akun Threads pribadinya, Cinta Laura menyampaikan keprihatinannya atas kasus tersebut.
Menurutnya, setiap kali kasus serupa viral, perhatian publik sering kali hanya tertuju pada siapa yang salah dan siapa yang benar.
Padahal, menurut Cinta, persoalan yang lebih mendasar adalah mengapa masih banyak masyarakat yang merasa pasien BPJS diperlakukan berbeda dibanding pasien lainnya.
“Setiap kali kasus seperti ini viral, pembahasannya langsung berputar di satu pertanyaan: siapa yang salah dan siapa yang benar. Menurut aku, justru itu bukan pertanyaan yang paling penting,” tulis Cinta, dikutip Kamis (6/8).
Ia melanjutkan, persoalan utamanya adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan bagi pasien BPJS.
“Pertanyaan yang sebenarnya lebih penting adalah: kenapa begitu banyak orang Indonesia, termasuk tenaga kesehatan, sering merasa bahwa pasien BPJS layak ditelantarkan hanya karena menggunakan BPJS? Tingkat ketidakpercayaan publik seperti ini enggak muncul dalam semalam,” lanjutnya.
Cinta mengatakan persepsi tersebut terbentuk dari banyaknya cerita yang beredar selama bertahun-tahun mengenai pasien maupun keluarga yang merasa diabaikan saat membutuhkan pertolongan.
Ia menegaskan, apabila dugaan dalam kasus Yurizal terbukti benar, maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban.
“Ini terbentuk dari cerita-cerita yang terus bermunculan selama bertahun-tahun (ada yang terverifikasi, ada yang tidak) tentang pasien dan keluarganya yang merasa diabaikan di saat mereka paling membutuhkan pertolongan.”
“Kalau tuduhan dalam kasus ini terbukti benar, maka mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban. Apa pun hasil akhirnya, publik tetap berhak mendapatkan transparansi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Cinta Laura menyoroti sistem pelayanan kesehatan yang dinilai dapat memengaruhi rasa aman pasien berdasarkan jenis asuransi yang dimiliki.
Menurutnya, layanan kesehatan bukanlah hak istimewa bagi mereka yang mampu membayar lebih.
Setiap pasien berhak memperoleh pelayanan medis yang cepat, bermartabat, dan penuh empati.
“Tapi di luar kasus ini, ada pertanyaan yang jauh lebih besar yang perlu kita renungkan: apakah tanpa kita sadari, kita sudah menciptakan sistem kesehatan di mana status asuransi seseorang memengaruhi rasa aman mereka saat melangkah masuk ke rumah sakit?”
“Layanan kesehatan bukanlah hak istimewa bagi mereka yang mampu membayar lebih. Martabat, empati, dan pelayanan medis yang tepat waktu seharusnya tidak pernah bergantung pada apakah seseorang membawa kartu BPJS atau asuransi swasta,” tulisnya.
Ia pun berharap kasus tersebut dapat menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
“Pasien ini, dan setiap keluarga di Indonesia, berhak mendapatkan jawaban, akuntabilitas, dan sistem kesehatan yang benar-benar bisa mereka percaya,” pungkasnya.
Lihat di Threads