DEMOCRAZY.ID – Penunjukan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Nanik S Deyang menuai beragam respons.
Salah satunya datang dari pegiat media sosial Ferry Koto yang mempertanyakan keputusan tersebut.
Ferry menyinggung nama Sudaryono yang menurutnya pernah disebut dalam persidangan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait aset tanah BUMD Cilacap.
Pada persidangan dimaksud, nama Sudaryono muncul dari mulut Ahmad Yazid alias Gus Yazid, Ketua Yayasan Silmi Kaffah Rancamulya sekaligus terdakwa kasus dugaan TPPU terkait transaksi jual-beli lahan seluas sekitar 700 hektare oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Cilacap Segara Artha.
Usai menjalani sidang putusan sela yang menolak eksepsinya pada Rabu (3/6/2026), Gus Yazid melontarkan pernyataan yang menyeret sejumlah nama pejabat, termasuk Sudaryono.
“Wamentan itu kapan diperiksanya? Itu kan kadernya Gerindra, Sudaryono,” kata Gus Yazid kepada awak media di lingkungan Pengadilan Tipikor Semarang.
“Dia memperalat sopir sama sesprinya (sekretaris pribadi) untuk mengembalikan aset kerugian. Sedangkan dari kasus tuntutan saya Rp20 miliar, aset yang disita sudah Rp35 miliar,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Yazid bahkan menantang jaksa untuk turut memeriksa Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, serta menyinggung sejumlah nama jenderal lainnya.
Ia juga mengklaim uang yang diterimanya sebagian dipakai untuk kegiatan kampanye pemenangan Prabowo pada Pilpres 2024.
Pendukung setia Presiden Prabowo ini menyebut publik perlu mengetahui bahwa nama Sudaryono pernah muncul dalam persidangan perkara tersebut.
“Buat yang belum tahu, nama Sudaryono ini disebut oleh terdakwa dalam kasus TPPU Aset Tanah BUMD Cilacap,” ujar Ferry, Rabu (22/7/2026).
Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan Nanik S Deyang yang, menurutnya, juga disebut oleh tersangka dalam perkara dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Mirip Nanik yang disebut tersangka Korupsi MBG yaitu Sony,” ucapnya.
Atas dasar itu, Ferry mengaku tidak akan menunjuk Sudaryono apabila berada di posisi presiden.
“Kalau saya Presiden, ya pasti menghindari menunjuk Sudar. Kayak ndak ada calon lain yg lebih kompeten saja,” cetusnya.