DEMOCRAZY.ID – Sorotan publik kembali tertuju pada isu keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Pembahasan ini kembali mengemuka setelah Pakar Telematika, Roy Suryo, membagikan momen pertemuannya dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan serta sejumlah figur alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam acara Temu Kangen Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama).
Pertemuan yang digelar di Jakarta Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur tersebut menjadi bahan diskusi hangat saat tayang melalui kanal YouTube Sentana TV.
Dalam perbincangan bersama presenter Michael Sinaga dan pegiat media sosial Janes, Roy Suryo membeberkan berbagai dinamika menarik di balik acara reuni alumni kampus kerakyatan tersebut, sekaligus menyentil respons Jokowi saat diwawancarai media.
Sindiran “Sing Asli Wani Teko”Salah satu momen utama yang disorot Roy Suryo adalah celetukan spontan saat dirinya bertemu pertama kali dengan Anies Baswedan di arena acara.
Pernyataan bernada gurauan berbahasa Jawa tersebut langsung menyita perhatian para alumni yang hadir di lokasi.
“Sing asli wani teko, sing ora asli ora wani teko [Yang asli berani datang, yang tidak asli tidak berani datang],” ujar Roy Suryo mengutip percakapan yang mengemuka saat menyambut kedatangan Anies Baswedan.
Menurut Roy, acara yang dihadiri ribuan alumnus UGM dari pelbagai angkatan dan lintas fakultas itu menjadi ajang silaturahmi yang riil dan transparan.
Namun, ia menyayangkan ketiadaan sosok Joko Widodo yang selama ini diklaim sebagai salah satu alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1981.
Ia menyebutkan, di lokasi acara ia justru bertemu dengan Mustoha Iskandar, sosok yang selama ini pasang badan membela keaslian status kelulusan Jokowi.
Roy mempertanyakan mengapa rekan-rekan seangkatan yang kerap diklaim berjumlah puluhan orang tidak tampak hadir mendampingi dalam momen berkumpulnya para alumni UGM tersebut.
Selain membahas kegiatan reuni Kagama, diskusi tersebut mengkritisi isi wawancara Joko Widodo dalam program Bocor Alus Politik Tempo yang belakangan menyita perhatian publik.
Janes dan Roy Suryo menilai argumen yang disampaikan Jokowi mengenai keaslian ijazahnya masih menyisakan banyak tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Roy Suryo menyoroti perbedaan mendasar antara istilah “identik” dan “otentik” yang sering dicampuradukkan publik maupun pihak penegak hukum.
Ia menegaskan bahwa pembuktian keaslian sebuah dokumen resmi negara membutuhkan otentikasi independen, bukan sekadar pengakuan sepihak atau klaim kesamaan bentuk visual.
“Otentikasi itu hingga saat ini belum pernah dilakukan secara menyeluruh terhadap dokumen ijazah yang bersangkutan oleh lembaga independen yang berwenang, seperti Arsip Nasional,” tegas Roy, Sabtu (5/9/2026).
Janes turut menimpali dengan mengkritik kebiasaan melimpahkan pembuktian kepada pihak pelapor.
Menurutnya, sebagai pejabat publik dan pihak yang keaslian dokumennya dipertanyakan, langkah paling sederhana dan elegan adalah menunjukkan fisik dokumen asli secara terbuka di hadapan umum atau proses hukum yang transparan tanpa perlu berbelit-belit.
Isu perselisihan ini dipastikan akan berlanjut ke meja hijau.
Roy Suryo mengungkapkan bahwa dirinya bersama Dr. Tifa siap menghadapi persidangan pokok perkara yang diagendakan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada pertengahan September.
Ia menegaskan tidak akan mundur dan bakal memanfaatkan forum pengadilan untuk menguji seluruh fakta, berkas acara pemeriksaan (BAP), serta mendatangkan saksi-saksi ahli independen guna membuka persoalan ini secara terang benderang di hadapan majelis hakim.
“Kami sangat siap untuk hadir langsung di persidangan. Forum pengadilan adalah tempat yang resmi dan terhormat untuk membuktikan seluruh barang bukti dan fakta hukum secara objektif,” tutur Roy.
Di akhir tayangan, mereka mengimbau masyarakat dan insan pers untuk terus mengawal jalannya proses persidangan mendatang agar berjalan jujur, adil, serta bebas dari intervensi pihak manapun demi terselenggaranya kepastian hukum di Indonesia.