Skripsi Kok Disebut Tesis? UGM Akhirnya Bilang Begini Soal Perubahan Istilah Dokumen Jokow

DEMOCRAZY.IDMisteri administratif seputar riwayat pendidikan tinggi mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali menemukan babak baru yang menggelitik.

Di tengah badai kontroversi ijazah yang tak kunjung surut, publik sempat dibuat bingung dengan inkonsistensi penyebutan karya akhir sang mantan penguasa, yang kerap berganti-ganti label antara “skripsi” dan “tesis” dalam berbagai dokumen maupun narasi publik.

Polemik Istilah “Tesis” vs “Skripsi”: Alibi Kampus Biru Ungkap Panduan Jadul

Menanggapi kebingungan publik yang kerap dijadikan bahan perdebatan sengit di ruang digital, pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya angkat suara untuk meluruskan akar persoalan nomenklatur tersebut.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, dalam klarifikasi resmi yang ditayangkan melalui akun YouTube UGM, mengakui bahwa penggunaan istilah tugas akhir pada masa silam memang tidak serta-merta sejalan dengan standar baku pendidikan tinggi yang berlaku pada era modern saat ini.

Di masa lalu, ketika program sarjana (S1) ditempuh, acuan kurikulum dan panduan akademik internal ternyata menggunakan istilah yang berbeda.

“Begini, pada saat itu kalau kita me-refer pada dokumen yang kita miliki yaitu panduan semacam panduan akademik gitu ya, panduan akademik S1 itu saya lihat di daftar mata kuliah itu di bagian akhir itu malah menyebutkan sebagai problema kehutanan garis miring tesis,” ujar Sigit membedah arsip masa lalu.

Pengakuan tersebut secara gamblang menunjukkan bahwa kurikulum S1 Fakultas Kehutanan UGM pada era tersebut memang mencantumkan kata “tesis” dalam dokumen resmi akademiknya, meskipun program pendidikan yang diselesaikan oleh mahasiswa yang bersangkutan murni berada pada jenjang strata satu (sarjana).

Seiring berjalannya waktu dan adanya pembaruan regulasi penyeragaman istilah akademik nasional, penamaan tersebut baru disesuaikan menjadi “skripsi”.

“Ada perkembangan aturan dan lain sebagainya bahwa karya untuk sarjana itu namanya skripsi maka ikut merubah menjadi skripsinya. Tetapi barangkali ada beberapa orang yang masih menganggap bahwa tesis itu merupakan sebelumnya hal yang sama tapi dia memilih tesis begitu,” tambahnya menjelaskan dinamika transisi aturan tersebut.

Dokumen Asli Disebut Tetap Pakai “Skripsi”

Kendati pihak fakultas secara terbuka mengonfirmasi bahwa panduan akademik masa itu sempat mencatut istilah “tesis”, Sigit menegaskan bahwa lembaran fisik tugas akhir milik Joko Widodo secara spesifik tetap menggunakan sebutan “skripsi” pada sampul depannya.

Penjelasan pihak UGM ini diharapkan mampu meredam silang pendapat ihwal perbedaan istilah yang kerap memicu spekulasi liar di tengah masyarakat.

Namun, di sisi lain, rentetan klarifikasi berkala yang dikeluarkan oleh pihak almamater justru memperlihatkan betapa rekam jejak akademik lingkaran kekuasaan tertinggi di negeri ini menyimpan banyak catatan unik yang terus diuji oleh nalar kritis publik.

Artikel terkait lainnya