GAWAT! Data Bank Dunia Sebut Indonesia Berpotensi Jadi Negara ‘Termiskin’ di 2027

DEMOCRAZY.IDEkonom Ferry Latuhihin melontarkan kritik tajam terhadap proyeksi ekonomi nasional yang dikeluarkan oleh Bank Dunia.

Ia menyebutkan bahwa proyeksi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan predikat termiskin di kelas middle-income pada tahun 2027 mendatang, dengan estimasi 64,2 persen penduduk masuk dalam kategori miskin berdasarkan standar pengeluaran harian sebesar 8,3 dolar AS.

Angka proyeksi tersebut terpaut sangat jauh jika dikomparasikan dengan data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), di mana tingkat kemiskinan nasional selama ini konsisten dicatat hanya berada di kisaran 8 hingga 9 persen.

“Saya lebih percaya kepada perhitungan World Bank karena ini standarnya objektif,” ujar Ferry, beralasan bahwa metodologi yang digunakan lembaga internasional tersebut bersifat komparatif lintas negara, kontras dengan BPS yang menurut pandangannya hanya mengukur realitas domestik secara parsial melalui kanal YouTube pribadinya, dikutip Senin (31/8/2026).

Kritik Pertumbuhan Ekonomi yang Tak Berkualitas dan Tekanan Daya Beli

Ferry lantas mengaitkan lebar jurang perbedaan data tersebut dengan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.

Meskipun catatan resmi mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata berada di angka 5,45 persen pada semester I 2026, ia menilai angka tersebut bersifat semu karena minim penyerapan tenaga kerja di sektor formal serta tidak dirasakan secara nyata oleh peningkatan daya beli masyarakat luas.

“Selebihnya siapa yang merasakan pertumbuhan yang tinggi ini?” ucapnya retoris.

Sebagai indikator penopang argumennya, ia membeberkan sejumlah data penunjang, mulai dari kenaikan upah riil buruh yang tercatat minim di angka 1,7 persen, hingga lonjakan angka peminjaman melalui layanan pinjaman online (pinjol) yang meroket hingga 25,88 persen sebagai cerminan tekanan finansial rumah tangga yang kian menghimpit.

Soroti Pendapatan Per Kapita dan Kebijakan Pajak

Selain itu, Ferry turut mencatat pergeseran posisi ekonomi makro Indonesia yang kini berada di bawah negara tetangga Vietnam, di mana pendapatan per kapita Vietnam disebutnya telah menyentuh angka 5.115 dolar AS.

Dalam penutupannya, ia melayangkan kritik keras terhadap kebijakan fiskal pemerintah di tengah situasi krisis daya beli masyarakat yang sedang merosot tajam, di mana pemerintah justru memilih untuk menggenjot target penerimaan pajak secara agresif.

“Kita malah menguda-ngudak pajak, mengejar-ngejar pajak, ketika daya beli masyarakat ini hancur,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya