Relawan Jokowi: Jika Gibran Dimakzulkan, Prabowo Juga Harus Ikut Tumbang!

DEMOCRAZY.ID – Ketua Umum All Cipayung Nusantara yang diketahui sebagai salah satu kelompok relawan Jokowi, David Pajung, meminta partai politik mitra koalisi pengusung pemerintah tidak memproses wacana angket atau pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dia menilai, wacana pemakzulan Gibran akan berdampak langsung ke Presiden RI Prabowo Subianto.

Keduanya dinilai “satu paket” saat mencalonkan diri di Pilpres 2024 silam.

“Satu paket karena yang dipersoalkan ini proses administrasi pencalonan. Ketika salah satu cacat di pencalonan, dua-duanya cacat,” klaim David Pajung dalam program “Kompas Petang” yah tayang di akun YouTube KompasTV, Sabtu (31/10/2026).

Menanggapi hal itu pegiat media sosial yang juga turut andil memenangkan Jokowi selama dua periode, Denny Siregar menyampaikan balasan menohok.

Melalui akun media sosialnya, produser film “Sayap-sayap Patah” ini menyindir para relawan tersebut sebagai kelompok yang panik dan mulai menebar ancaman.

“Biasanya kalo udah panik, mulai tebar ancaman.. 😄,” tulis Denny Siregar, sembari memposting tangkapan layar pemberitaan ancaman dari relawan Jokowi tersebut.

LCJ Tebar Ancaman ke Prabowo?

Sementara itu, Koordinator Laskar Cinta Jokowi (LCJ), Suhandono Baskoro, menegaskan bahwa wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak bisa dilepaskan dari posisi Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, jika Gibran dimakzulkan, Prabowo juga harus ikut bertanggung jawab secara politik karena keduanya terpilih sebagai satu paket dalam Pilpres 2024.

Suhandono berpandangan, kemenangan Prabowo dalam Pilpres 2024 tidak terlepas dari peran Gibran sebagai calon wakil presiden serta dukungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Ia menilai dukungan politik Jokowi menjadi salah satu faktor penting yang mengantarkan pasangan Prabowo-Gibran meraih kemenangan.

“Jika Gibran dimakzulkan, Prabowo juga harus tumbang. Keduanya satu paket,” demikian sikap Suhandono dalam menanggapi berkembangnya wacana pemakzulan Gibran, Rabu (14/10/2026).

Menurut Suhandono, kemenangan Prabowo tidak bisa hanya dilihat sebagai keberhasilan pribadi ataupun kekuatan Partai Gerindra.

Ia menilai dukungan Jokowi dan keterlibatan Gibran dalam pasangan calon turut memberikan kontribusi besar terhadap kemenangan tersebut.

Suhandono bahkan berpendapat bahwa tanpa dukungan Jokowi, peluang Prabowo untuk memenangkan Pilpres 2024 akan berbeda.

Karena itu, ia menilai konsekuensi politik dari persoalan yang menimpa Gibran semestinya tidak hanya diarahkan kepada sang wakil presiden, tetapi juga menjadi perhatian terhadap posisi Prabowo sebagai presiden.

Pandangan Pakar

Terpisah, Prof. Ahmad Yani menolak argumen jika satu calon bermasalah maka satu paket pasangan calon bisa gugur.

“Itu adalah argumentasi yang mengada-ada dan tidak memiliki dasar hukum yang jelas, seperti orang mau tenggelam yang berusaha menarik orang lain bersamanya,” ucapnya, dalam tayangan YouTube Hersubeno Point.

“Apakah ada konspirasi pemalsuan surat yang melibatkan Pak Prabowo? Tentu tidak; justru Presiden Prabowo diposisikan sebagai pihak yang dirugikan dan tertipu. Ibarat tubuh yang terkena tumor, maka tumornya saja yang harus diangkat,” jelas Ahmad Yani.

Ia menegaskan, dalam proses pemilu memang ada mekanisme pasangan calon, tetapi pertanggungjawaban hukum tetap bersifat personal.

Artikel terkait lainnya