DEMOCRAZY.ID – Tiga wanita mencuri perhatian publik lewat aksi membawa poster kritikan tajam terhadap masalah kebakaran hutan, perluasan kebun sawit, dan Israel.
Aksi protes tersebut langsung viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @sarahmotiva.
Deretan poster yang dibentangkan menyoroti dugaan kerusakan lingkungan akibat alih fungsi hutan menjadi lahan sawit.
Mereka juga secara terbuka mempertanyakan rantai pasok serta perdagangan produk kelapa sawit Indonesia ke Israel.
Ketiga wanita tersebut membawa poster dengan tulisan “Hutan Indonesia Dibakar”, “Hutannya Ditanami Sawit” dan “Sawitnya Buat Israel”.
👇👇
View this post on Instagram
Indonesia memang tercatat melakukan ekspor minyak sawit dan produk turunannya ke Israel, meskipun kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan World Integrated Trade Solution (WITS), nilai ekspor produk minyak sawit olahan (tidak termasuk CPO mentah) dari Indonesia ke Israel tercatat mencapai US$21,60 juta (sekitar Rp340-an miliar) sepanjang tahun 2025 dengan volume sekitar 19.185 ton.
Angka ini mengalami sedikit penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
71 persen hingga 88% dari total impor minyak sawit Israel.
Sebaliknya, bagi Indonesia, pasar Israel hanya menyerap sebagian kecil (kurang dari 0,12%) dari total keseluruhan ekspor sawit nasional.
Perdagangan ini dapat berlangsung secara business-to-business (B2B) melalui perusahaan swasta atau melalui pihak ketiga (negara perantara/transit seperti Singapura atau negara lain), karena regulasi ekspor Indonesia secara umum tidak melarang transaksi berdasarkan status hubungan diplomatik, melainkan diatur berdasarkan jenis komoditas.
Isu ini sering kali memicu kritik dari berbagai kalangan di Indonesia, termasuk kelompok masyarakat sipil dan gerakan pro-Palestina (seperti BDS Indonesia), yang mendesak pemerintah dan perusahaan sawit untuk menghentikan pengiriman komoditas ke Israel di tengah situasi konflik di Gaza.