DEMOCRAZY.ID – Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa, Tony Rasyid, memprediksi bahwa Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, berpotensi mengalahkan Presiden Prabowo Subianto pada Pemilu 2029.
Dikatakan Tony, ada empat faktor yang membuat elektabilitas KDM terus meroket, sementara elektabilitas Prabowo justru terus menurun.
“Prabowo dan KDM sama-sama punya panggung. Prabowo jadi presiden. KDM jadi Gubernur Jawa Barat. Jawa Barat punya pemilih terbesar. Jumlahnya ada 20 persen dari total pemilih di Indonesia,” ujar Tony kepada fajar.co.id, Minggu (6/9/2026).
Tony mengatakan bahwa saat ini nama KDM paling melejit di antara 38 gubernur di Indonesia.
Tidak hanya popularitas, tetapi juga elektabilitasnya.
Dalam sejumlah survei dari lembaga kredibel seperti SMRC, Indikator, dan Tempo, elektabilitas KDM disebut jauh melampaui Prabowo.
“Disisi lain, presiden Prabowo, sekaligus ketum dan ketua pembina partai Gerindra dimana KDM sebagai kadernya, trend elektabilitasnya terus turun. Ketika trend elektabilitas seorang pejabat turun, dari pengalaman historis, ini sulit recovery,” ucapnya.
Tony membeberkan empat faktor yang membuat KDM berhasil menyalip Prabowo.
Penampilan bersahaja. KDM tampil dengan kaos, ikat kepala ala Sunda, dan kendaraan apa adanya.
Mirip Jokowi, namun konten KDM di media sosial lebih intens dan masif.
Kontras dengan penampilan Prabowo yang formal dan protokoler.
“Kesederhanaan KDM membentuk persepsi positif di mata publik. Prabowo sebaliknya,” tegas Tony.
KDM juga memiliki komunikasi publik yang cair, natural, dan mudah dipahami rakyat kecil.
Sementara Prabowo terkesan kaku dan sering blunder saat berupaya lebih rileks.
“Orang desa gak butuh dolar, ini jadi salah satu contoh. Kupas bawang satu jam 700 ribu. Juga ungkapan, penggilingan padi setahun menghasilkan 2 T,” kenang Tony.
Prabowo membangun narasi besar seperti MBG, KMP, dan Danantara, namun belum proven dan justru dihantui kasus korupsi.
“KDM justru lebih memilih narasi-narasi yang sederhana dan langsung menyentuh kepentingan rakyat kecil,” jelas Tony.
KDM responsif terhadap persoalan rakyat.
Kasus kekerasan seksual di Jabar langsung dibuatkan sayembara.
Gempa NTT juga disikapi sigap dengan turun langsung ke lokasi.
“Rakyat menganggap, ini bentuk kepedulian. Kehadiran KDM di tengah penderitaan rakyat melahirkan simpati publik,” imbuhnya.
Jika pola ini terus berlanjut, Tony memprediksi KDM akan mengalahkan Prabowo di Pemilu 2029.
“Jika pola KDM dan Prabowo dalam sikap dan komunikasi politik seperti sekarang ini terus berlanjut dan dipertahankan oleh masing-masing, maka di pemilu 2029 KDM akan kalahkan Prabowo,” tandasnya.