DEMOCRAZY.ID – Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyoroti munculnya istilah “Islam ala Prabowo” yang dikaitkan dengan pemikiran dan sosok Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Anwar Abbas, Islam tidak semestinya ditempelkan pada nama seorang tokoh politik karena berpotensi menimbulkan persoalan teologis sekaligus perpecahan di tengah umat.
Anwar Abbas mempertanyakan dasar penyematan nama Prabowo pada Islam.
Menurutnya, Islam memiliki dimensi yang luas, mulai dari akidah, ibadah, akhlak hingga muamalah.
“Bolehkah Islam diberi embel-embel nama seorang tokoh politik tertentu? Kalau ditempelkan kepada pribadi selain Nabi, itu memang bermasalah, akan menimbulkan perpecahan,” kata Anwar Abbas di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Jumat (11/9/2026).
Ia kemudian mempertanyakan apakah Prabowo memiliki konsep akidah yang berbeda atau menawarkan pemahaman Islam yang baru.
“Apakah Prabowo menawarkan konsep akidah yang berbeda? Apakah Prabowo tahu Al-Qur’an dan hadits? Pak Prabowo tidak terlalu banyak tahu,” ujarnya.
Anwar Abbas juga mencium adanya kepentingan politik di balik penggunaan istilah “Islam ala Prabowo”.
Ia menduga istilah tersebut berpotensi lahir dari upaya membangun citra politik tertentu terhadap Prabowo.
“Ada tendensi bahwa buku ini, Islam ala Prabowo, dibuat untuk upaya menjilat. Bau itu ada, ada bau yang tercium. Karena ada kepentingan-kepentingan politik sempit,” katanya.
Meski demikian, Anwar Abbas menyatakan tidak yakin sejumlah tokoh yang terlibat dalam pemerintahan maupun penulisan buku tersebut sengaja melakukan praktik menjilat kepada Prabowo.
“Saya yakin Pak Yusri Ihza Mahendra tidak akan melakukan itu. Pak Muhadjir Effendy juga tidak akan seperti itu dan Pak Mu’ti yang ada di situ, saya juga tidak percaya mereka melakukan praktik-praktik menjilat itu,” ujar Anwar.
Dalam kesempatan itu, Anwar Abbas juga menyinggung beberapa kali pernyataan Prabowo yang mengungkapkan kekagumannya terhadap Mustafa Kemal Ataturk, tokoh pendiri Republik Turki modern.
Anwar Abbas mengingatkan agar Ataturk tidak dijadikan personifikasi atau identifikasi tentang keberislaman seseorang.
“Janganlah jadikan Mustafa Kemal Ataturk sebagai tokoh personifikasi, tokoh identifikasi secara sejauh itu. Keislamannya enggak baik,” kata Anwar Abbas.
Menurut dia, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut politik, tetapi juga memiliki dimensi teologis dan ubudiah.
“Itu secara teologis bermasalah, secara ubudiah bermasalah. Dia meninggalkan ajaran agamanya,” ujarnya.
Anwar kemudian mengutip ungkapan keagamaan tentang konsekuensi dari setiap tindakan manusia.
“Barang siapa yang menebar angin, dia akan menuai. Dan saya melihat gejala-gejala Pak Prabowo akan menuai sudah mulai kelihatan,” katanya.
Anwar juga mengungkapkan cerita yang diperolehnya dari salah seorang wakil menteri yang berasal dari partai yang sama dengan Prabowo.
Menurut cerita tersebut, ketika Prabowo menyampaikan instruksi atau pandangan dalam suatu kesempatan, menteri yang berada di hadapannya memberikan respons dengan mengatakan siap.
“Ketika Pak Prabowo ngomong, ditanya menteri bagaimana? ‘Siap, Pak. Siap, Pak,’ begitu,” ujar Anwar.
Namun, menurut Anwar, setelah itu wakil menteri tersebut justru mempertanyakan apakah instruksi yang disampaikan Prabowo benar-benar akan dilaksanakan.
“Lalu oleh wakil menteri yang dari partai yang sama ditanya, ‘Bapak bilang siap-siap apa? Itu akan dilaksanakan?’ Ya enggaklah,” kata Anwar.
[FULL VIDEO]