DEMOCRAZY.ID – Sosiolog Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuly Qodir mengkritik keras kemunculan buku Islam ala Prabowo.
Ia menilai penggambaran Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok yang menghasilkan gagasan atau ijtihad keislaman terlalu berlebihan dan berpotensi membodohi umat.
“Menurut saya terlalu berlebihan. Ya bahwa itu boleh sih boleh, tapi menurut saya terlalu berlebihan dan itu kemudian membodohi umat secara keseluruhan,” ujar Zuly saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).
Menurut Zuly, narasi tersebut tidak lepas dari kepentingan politik orang-orang di sekitar kekuasaan.
: “agamamu apa?”
: “islam”
: “NU apa Muhammadiyah?”
: “bukan keduanya”
: “terus apa?”
: “….” pic.twitter.com/SWdO6xfeYk
— ultramen kosmos (@ultramenksms) September 5, 2026
Ia menduga framing tersebut sengaja dibangun oleh lingkaran pendukung Prabowo untuk mencari keuntungan politik.
“Sekarang banyak orang sedang mendekat-dekat dengan Prabowo untuk bisa periode kedua,” katanya.
Zuly juga menyoroti perubahan narasi di kalangan pendukung Prabowo.
Menurutnya, sosok yang sebelumnya dinilai tidak memahami praktik keislaman kini justru digambarkan secara berlebihan sebagai figur yang menghasilkan pemikiran keislaman.
Ia menilai Prabowo tidak memenuhi kualifikasi keilmuan yang dipersyaratkan ulama untuk disebut sebagai seorang mujtahid.
📌PROTES PENCATUTAN NAMA DI BUKU ISLAM ALA PRABOWO
Buku Islam Ala Prabowo memicu polemik etika. Sejumlah ulama terkemuka, termasuk Gus Kautsar dan TGB Zainul Majdi, memprotes keras pencatutan nama mereka sebagai kontributor tanpa izin.
Baca JugaKlarifikasi tegas pun dilayangkan demi… pic.twitter.com/l6phqxdlOf
— RL (@RA_leather) September 7, 2026
“Apalagi kalau mengikuti kaidah-kaidah atau koridor-koridor yang dikemukakan para ulama salaf, ulama masa lalu, harus paham bahasa Arab, harus paham minimal 500 hadis hukum, harus paham minimal misalnya ya minimal adalah 20 atau 20 juz atau misalnya 10 juz Al-Qur’an, menurut saya Prabowo tidak semua itu,” ucapnya.
Karena itu, Zuly meminta publik membedakan kapasitas Prabowo dalam bidang militer dan kebijakan negara dengan kapasitas keilmuan dalam bidang agama.
“Kalau dia menguasai ilmu tentang perang, ilmu senjata, iya. Jadi menurut saya perlu dibedakan ya. Kalau ini adalah terkait dengan kebijakan politik, kebijakan makro Indonesia, mungkin Pak Prabowo melakukan hal itu,” ujarnya.
“Tapi kalau ini khusus adalah dalam bidang pemikiran keislaman, menurut saya belum ada rekaman yang bisa menjelaskan dengan baik semacam itu,” imbuhnya.
Zuly kemudian mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan simpati politik sebagai alasan untuk menerima begitu saja klaim-klaim keagamaan yang dilekatkan kepada seorang tokoh.
Di era Jokowi ada islam nusantara.
Di era Prabowo terbitlah islam ala Prabowo.Baca JugaDua duanya dilakukan para penjilat berkedok ulama.
Hanya ada satu islam yaitu: islam ala Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. pic.twitter.com/cDENzc5SDe
— Edy Bayo Regar (@regar_op0sisi) September 4, 2026
“Jadi sekali lagi, kita boleh mendukung, kita boleh setuju, kita boleh simpati, tapi tidak kemudian serta-merta simpati itu, mendukung itu dengan cara yang membabi buta atau yang agak kurang masuk di akal,” tegasnya.
Ia menilai pelabelan Prabowo sebagai sosok yang menghasilkan ijtihad pemikiran Islam justru menunjukkan kuatnya eksploitasi simbol agama untuk kepentingan tertentu.
“Menurut saya malah terlalu kuat dimensi komodifikasinya, membesar-besarkannya, hiperboliknya bahwa ini adalah sebuah ijtihad pemikiran Islam ala Pak Prabowo,” pungkasnya.