‘Operasi Hitam’ Terstruktur Terbongkar! Pengamat Pastikan Penyerang Demo UGM dan Pembantai Bambang Setiawan Bukan Kelompok Amatiran

DEMOCRAZY.IDPengamat kebijakan publik, Gigin Praginanto, melontarkan analisis tajam dan mencurigakan terkait rangkaian aksi kekerasan yang mewarnai gelombang demonstrasi mahasiswa di Yogyakarta serta insiden berdarah tewasnya Bambang Setyawan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Melalui akun media sosial pribadinya, Gigin secara terbuka menyatakan bahwa eskalasi kekerasan tersebut tidak mungkin dilakukan oleh kelompok massa yang lahir secara spontan di jalanan.

Ia menduga kuat ada aktor terorganisir di balik pergerakan para pelaku penyerangan.

“Mereka yang menyerang demo mahasiswa UGM dan membantai Bambang Setiyawan bukan massa dadakan. Lihat saja bentuk badan dan koordinasi mereka ketika beraksi. Mereka terlatih,” ujar Gigin melalui akun X miliknya, Selasa (8/9/2026).

Anatomi Kekerasan: Dari Yogyakarta hingga Pejompongan

Sorotan tajam ini merefleksikan keprihatinan luas atas rentetan aksi kekerasan yang menciderai ruang kebebasan berekspresi.

Di Yogyakarta, insiden pecah saat aksi unjuk rasa mahasiswa di kawasan Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, pada 1 September 2026 berujung pada cederanya lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pihak rektorat UGM langsung melayangkan kecaman keras serta menuntut pertanggungjawaban hukum bagi pelaku kekerasan.

Kesaksian di lapangan memperkuat dugaan adanya kelompok terstruktur yang secara khusus membidik dan mengejar peserta aksi ketika massa mulai membubarkan diri.

Pola kekerasan serupa, namun dalam skala yang jauh lebih fatal, terlihat dalam kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada 27 Agustus 2026.

Bambang Setyawan, seorang pedagang cermin, ditemukan dalam kondisi mengenaskan akibat pengeroyokan brutal di tengah kericuhan sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia di RS TNI AL Mintohardjo.

Langkah Penyelidikan Polisi dan Desakan IPW

Menanggapi desakan publik yang kian menguat, Polda Metro Jaya bergerak cepat dengan menaikkan status penanganan perkara ke tahap penyidikan melalui laporan polisi tipe A.

Aparat kepolisian bahkan telah merilis dua sketsa wajah terduga pelaku pengeroyokan yang dirangkum dari keterangan saksi, rekaman CCTV, serta analisis digital forensik.

Hingga kini, perburuan terhadap para pelaku masih terus berlangsung.

Desakan penegakan hukum tanpa kompromi juga datang dari Indonesia Police Watch (IPW).

Lembaga pengawas kepolisian tersebut menegaskan bahwa aksi kekerasan oleh kelompok sipil berseragam preman tidak boleh ditoleransi karena berpotensi merusak tatanan hukum dan melahirkan budaya main hakim sendiri di tengah masyarakat.

Kendati analisis mengenai keberadaan “kelompok terlatih” terus menggelinding di ruang publik, pihak kepolisian hingga kini belum menyimpulkan adanya keterkaitan langsung antara insiden di Yogyakarta dan Jakarta.

Publik pun kini menaruh atensi penuh kepada aparat penegak hukum untuk segera membongkar tuntas identitas, motif, serta dalang intelektual di balik operasi kelompok terselubung tersebut.

Artikel terkait lainnya