DEMOCRAZY.ID – Gelombang konten bernada kebencian terhadap pengungsi Rohingya kembali mencuat di Malaysia.
Kampanye tersebut disebut diperkuat oleh akun palsu, bot, serta ratusan video yang diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Laporan MalaysiaNow menyebut pola kampanye itu memiliki kemiripan dengan serangan informasi terhadap Rohingya di Aceh, Indonesia, pada 2023.
Saat itu, konten yang beredar di media sosial mendorong penolakan dan tuntutan agar pengungsi Rohingya diusir dari wilayah tersebut.
Kampanye digital tersebut tidak hanya menggambarkan Rohingya sebagai kelompok yang tidak berterima kasih, tetapi juga menuduh mereka membebani sumber daya dan mengancam masyarakat lokal.
Narasi semacam itu kemudian digunakan untuk mendorong tuntutan deportasi, termasuk ke Myanmar, meski kondisi keamanan di negara tersebut masih menjadi persoalan serius.
Salah satu narasi yang beredar di Malaysia menggambarkan Rohingya sebagai pendatang yang pada akhirnya akan mengambil alih wilayah masyarakat setempat.
Narasi tersebut bahkan membandingkan keberadaan Rohingya dengan isu permukiman dan perebutan wilayah dalam konflik Israel-Palestina.
MalaysiaNow menyebut pola narasi itu juga pernah digunakan dalam kampanye digital di Aceh.
Sejumlah unggahan disebut berusaha membangkitkan sentimen identitas Melayu dan Muslim dengan menggambarkan Rohingya sebagai ancaman terhadap tanah, keamanan, serta masa depan masyarakat lokal.
Peneliti Palestina Muhammad Shehada sebelumnya mengidentifikasi sejumlah kesamaan mekanisme dalam perlakuan terhadap Rohingya di Myanmar dan warga Palestina.
Pertama, identitas kewarganegaraan dibangun berdasarkan kelompok etnis atau agama dominan.
Kedua, kelompok minoritas dilabeli berdasarkan identitas agama atau etnis sehingga identitas kebangsaan mereka terpinggirkan.
Ketiga, mereka digambarkan sebagai imigran ilegal meski memiliki sejarah panjang di wilayah tersebut.
Keempat, keberadaan mereka dikonstruksikan sebagai ancaman terhadap keamanan atau identitas nasional.
Pola berikutnya mencakup pengusiran dan pembatasan pergerakan, terbentuknya diaspora akibat perpindahan paksa, kekerasan oleh kelompok bersenjata maupun aktor nonnegara, serta penggunaan narasi keamanan untuk membenarkan tindakan represif.
Kemunculan kembali kampanye anti-Rohingya di Malaysia menunjukkan bagaimana isu pengungsi dapat dengan mudah dimanfaatkan dalam perang informasi.
Konten yang diproduksi secara massal, termasuk menggunakan teknologi AI dan akun buzzer berpotensi membuat narasi yang belum terverifikasi terlihat seolah-olah merupakan opini publik yang luas.