DEMOCRAZY.ID – Kejaksaan Agung (Kejagung) membuka peluang menelusuri informasi mengenai dugaan keberadaan bunker maupun brankas lain milik mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Langkah itu akan dilakukan jika penyidik menilai informasi tersebut relevan untuk kepentingan penyidikan perkara dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat Febrie.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Anang Supriatna mengatakan penyidik tidak akan bergerak berdasarkan spekulasi atau opini publik.
Namun, setiap informasi yang dinilai berpotensi mengungkap alat bukti baru akan ditindaklanjuti.
“Kami tidak berdasarkan opini tapi kami lihat dulu berdasarkan kepentingan penyidikan. Menurut penyidik ada hal-hal yang perlu kami lakukan untuk ditambahkan pasti kami lakukan,” ujar Anang kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).
Pernyataan itu disampaikan setelah muncul sorotan dari Komisi III DPR RI mengenai kemungkinan masih adanya bunker maupun brankas lain yang diduga berkaitan dengan aset Febrie.
Hingga saat ini salah satu tempat yang belum digeledah adalah rumah pribadi Febrie di Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Rumah tersebut sebelumnya mendapat pengamanan ketat dari TNI.
Sebelumnya, Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman mengaku mendapat informasi masih ada lokasi penyimpanan atau bunker lain terkait tiga kasus dugaan korupsi yang menyeret eks Jampidsus Kejagung Febrie Adriansyah.
Febrie saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan korupsi batu bara, ASABRI, dan Krakatau Steel (KS).
“Infonya nih ada beberapa tempat lagi yang juga akan dilakukan potensi ya, juga bunker-bunker lainnya,” kata Habiburokhman dalam rapat internal Komisi III DPR RI di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
Anggota Komisi III DPR Fraksi Golkar Rikwanto menduga ada tempat persembunyian penyimpanan harta terkait tiga kasus korupsi ini yang belum diungkap.
Rikwanto meminta kasus ini diusut tuntas.
“Kami dari Fraksi Partai Golkar sangat menyayangkan dan juga sangat mengecam, ternyata di antara aparat penegak hukum ada yang berperilaku sebaliknya. Ini dari Partai Golkar kita minta untuk diusut tuntas,” kata Rikwanto.
“Kita duga masih banyak tempat-tempat persembunyian dari harta-harta yang tidak jelas, yang diduga hasil daripada kejahatan ini untuk diungkap,” sambungnya.