

DEMOCRAZY.ID — Pekikan “Hidup Jokowi” yang sempat menggema dari mulut Presiden Prabowo Subianto di panggung perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Februari 2025 silam, ternyata menyimpan tafsir politik yang jauh lebih dalam.
Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Lukas Luwarso, membongkar bahwa teriakan sanjungan tersebut justru menjadi sinyal retaknya kenyamanan hubungan antara sang presiden petahana dan pendahulunya.
Menurut Lukas, pekikan penghormatan yang dilontarkan di hadapan kader partai dan elite Koalisi Indonesia Maju (KIM) itu lahir dari desakan keresahan di dalam tubuh internal Gerindra sendiri.
Kala itu, ada kekhawatiran kuat di akar rumput dan jajaran partai bahwa bayang-bayang kekuasaan sang mantan presiden terlalu mendominasi, hingga memunculkan stigma miring yang menempatkan Prabowo seolah-olah sebagai boneka politik.
“Jadi the beginning of the end dari hubungan yang nyaman antara Prabowo dan Jokowi itu karena kalau memang hubungan itu tulus, bukan tipu daya dari dua belah pihak… Tidak perlu loh teriak itu,” ujar Lukas melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (5/8).
Ia menilai, penegasan berlebihan terhadap peran Jokowi di tengah acara internal partai justru mengindikasikan adanya problem psikologis dan politis yang tengah bergejolak di lingkaran pendukung Prabowo.
“Dengan hidup Jokowi itu sebenarnya ada sesuatu yang problematik, paling tidak di internal Gerindra dulu waktu itu yang tidak ingin Prabowo jadi boneka karena kesan itu kuat,” imbuhnya.
Sebagai seorang pemimpin tertinggi negara sekaligus ketua umum partai besar, Prabowo dituntut untuk tampil sepenuhnya independen.
Lukas memandang bahwa legitimasi kekuasaan harus dibangun di atas fondasi kapabilitas dan kekuatan politik mandiri, bukan semata-mata karena limpahan endorse atau sokongan dari rezim sebelumnya.
Seperti diketahui, dalam acara puncak peringatan HUT Gerindra pada Sabtu (15/2/2025) yang turut dihadiri langsung oleh Jokowi, Prabowo sempat menyerukan apresiasi khusus kepada sang mantan kepala negara hingga memantik riuh tepuk tangan peserta.
“Kita diberi kepercayaan oleh rakyat bersama kawan-kawan kita dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), dan saya katakan di sini bahwa kita berhasil mendapat kepercayaan rakyat karena dukungan teman-teman Koalisi Indonesia Maju semuanya,” kata Prabowo kala itu.
“Dan saya katakan di sini, kita berhasil karena kita didukung oleh Presiden ke-7 (Jokowi). Tepuk tangannya kurang semangat! Semangat lagi. Hidup Jokowi!” pekiknya di atas panggung.
Kendati momen tersebut ditafsirkan sebagian pihak sebagai bentuk etika politik dan balas budi, dinamika di balik layar membuktikan bahwa pertarungan pengaruh dan perebutan kemandirian kendali kekuasaan terus berproses sengit di jantung istana.