DEMOCRAZY.ID – Analis politik Hendri Satrio tidak percaya Presiden Prabowo Subianto berada di bawah kendali atau arahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Menurut dia, Prabowo memiliki kalkulasi politik sendiri dan tidak mudah diarahkan oleh Jokowi.
Hendri justru meminta publik mencermati aktivitas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ia menilai berbagai kunjungan Gibran ke tengah masyarakat dapat dibaca sebagai upaya membangun modal sosial.
“Gue sih gak pernah percaya bahwa Prabowo diatur Jokowi tuh gue gak pernah percaya,” kata Hendri dalam sebuah podcast, Senin, 21 September 2026.
Founder Lembaga Survei Kedai Kopi itu mempertanyakan anggapan yang terus mengaitkan langkah politik Prabowo dengan Jokowi.
Menurut dia, Prabowo merupakan aktor politik yang memiliki kepentingan dan pertimbangan sendiri.
“Lah, emangnya lo mau diatur-atur? Tiba-tiba, lo ngapain sih nyetir mulu?” ujar dia.
Hendri kemudian menyinggung narasi bahwa kemenangan Prabowo dalam Pilpres 2024 merupakan sesuatu yang diberikan Jokowi atau “giveaway”.
Menurut dia, perdebatan mengenai pengaruh Jokowi terhadap Prabowo bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.
Ia justru melihat pola pendekatan Gibran kepada masyarakat sebagai fenomena politik yang menarik.
“Iya giveaway ya giveaway, tapi kan maksud gue kampanyenya Gibran ini kalau lo gak hati-hati,” kata Hendri.
Ia mengaitkan aktivitas tersebut dengan konsep modal sosial.
Dalam pandangannya, interaksi langsung dengan masyarakat dapat menciptakan hubungan personal yang berpotensi menjadi aset politik.
“Sebagai penulis buku Momentum Politik, ada satu faktor yang bisa menumbuhkan momentum politik itu yang namanya modal sosial,” tuturnya.
Menurut Hendri, kunjungan politik tidak selalu berhenti pada pertemuan formal.
Kehadiran seorang tokoh di rumah atau lingkungan warga dapat meninggalkan kesan personal.
“Dan Gibran melakukan itu, orang Indonesia itu kan gak enakan,” ujar Hendri.
Ia memberikan ilustrasi mengenai bagaimana hubungan personal semacam itu dapat memengaruhi pilihan politik seseorang.
“Main ke rumah gue, terus kemudian Singgih maju ke DPRD, ya gue pilihlah. Gak enak gue, dia udah main ke rumah gue,” katanya.
Hendri menilai pola pendekatan langsung kepada masyarakat tersebut patut dicermati.
Ia menyebutnya sebagai bentuk kampanye yang tidak selalu terlihat seperti kampanye konvensional.
“Iya, jadi maksud gue ini tuh kampanye canggih. Lo harus hati-hati sama Gibran,” kata dia.
Menurut Hendri, persoalannya bukan semata-mata pada satu atau dua kunjungan.
Yang menjadi perhatian adalah apabila pola tersebut dilakukan secara konsisten dan dalam jumlah yang semakin banyak.
“Lo boleh ketawa begini begitu, tapi once dia banyak sekali berkunjung,” ujar Hendri.
Ia melihat pendekatan Gibran memiliki karakter berbeda dengan gaya politik Prabowo.
Perbedaan tersebut, kata Hendri, berkaitan dengan cara keduanya menjangkau dan membangun relasi dengan masyarakat.
“Dan Prabowo, Pak Prabowo udah gak bisa lagi ngikutin cara kampanyenya Gibran. Ya lewat dong,” kata Hendri.
Pernyataan Hendri itu menempatkan aktivitas Gibran sebagai salah satu dinamika yang patut diperhatikan dalam peta politik ke depan.
Ia tidak menyebut kunjungan tersebut secara otomatis sebagai bukti adanya kampanye elektoral, tetapi menyoroti potensi modal sosial yang dapat terbentuk dari intensitas interaksi langsung dengan masyarakat.