DEMOCRAZY.ID – Keputusan Presiden Prabowo Subianto mencopot Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri menjadi perbincangan publik, sebab momentum pergantian pucuk pimpinan Korps Bhayangkara itu dilakukan di tengah isu keretakan Prabowo dan Joko Widodo (Jokowi), dimana isu keretakan itu menguat dalam satu dua hari ini setelah Jokowi pamer Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Perlu dicatat, Listyo Sigit kerap diasosiasikan sebagai orangnya Jokowi yang saat ini masih berada di pemerintahan Prabowo Subianto, maklum saja Listyo mendapat jabatan Kapolri di era pemerintahan Jokowi.
Berbagai spekulasi liar itu dibantah oleh Direktur Eksekutif Fixpoll Indonesia Mohammad Anas RA.
Dia menilai pergantian Kapolri yang dilakukan Prabowo adalah sesuatu yang wajar, tak ada korelasinya dengan isu keretakan Prabowo-Jokowi.
“Tidak ada relevansinya perpecahan antara jokowi dan prabowo terhadap pergantian listyo sigit, lumrah setiap kepemimpinan presiden baru ada kapolri baru,” ucap Anas kepada wartawan Jumat (2/10/2026).
Anas mengatakan pergantian Kapolri dapat dilihat sebagai bagian dari langkah pemerintah untuk memperkuat roda pemerintahan, terutama dalam pelayanan publik dan penegakan hukum.
Dalam proses pergantian tersebut, Komisi III DPR RI menyetujui Suyudi Ario Seto sebagai calon Kapolri secara aklamasi pada Kamis (1/10/2026).
Persetujuan itu diberikan setelah Suyudi menjalani uji kelayakan dan kepatutan di DPR.
Suyudi kemudian menggantikan Listyo Sigit yang sebelumnya memimpin Polri sejak Januari 2021.
Pada hari yang sama, Listyo Sigit mendapat penugasan baru sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) dalam rangkaian perubahan jabatan yang dilakukan Presiden Prabowo.
Anas juga menyoroti lamanya masa kepemimpinan Listyo Sigit sebagai Kapolri.
Ia menyebut pergantian tersebut tidak perlu dikaitkan dengan konflik politik antara Prabowo dan Jokowi.
“Apalagi listyo sigit adalah kapolri yang paling lama menjabat sepanjang masa jabatan kapolri,” lanjutnya.
Diketahui, Listyo Sigit menjabat Kapolri selama sekitar lima tahun delapan bulan.
Tercatat masa jabatan Listyo sebagai yang terlama pada era Reformasi.
Sementara itu, Suyudi Ario Seto sebelumnya merupakan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).
Penunjukannya sebagai calon Kapolri diajukan Presiden Prabowo melalui surat presiden kepada DPR sebelum akhirnya mendapat persetujuan Komisi III.
Loyalis Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) Dede Budhyarto merespons berbagai komentar miring mengenai pencopotan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri yang telah ia emban selama sekitar enam tahun belakangan.
Beberapa saat setelah DPR RI menyetujui nama Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru menggantikan Listyo, banyak pihak beranggapan bahwa Prabowo sedang mengamputasi kaki tangan Jokowi di pemerintahannya, namun tak berselang lama Listyo Sigit justru dilantik menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Dede mengatakan, fakta bahwa Listyo Sigit masih mendapat kepercayaan Presiden Prabowo Subianto bikin para pembenci Jokowi memutar narasi mereka dengan menyebut KSP adalah tempat pembuangan.
Padahal lembaga ini memainkan peran yang sangat krusial di pemerintahan Prabowo Subianto.
“Awalnya, gerombolan KEOK itu termehek-mehek stlh Pak Listyo diganti sbg Kapolri. Setelah beliau mendapat amanah sbg Kepala KSP, narasinya berbalik: KSP disebut tempat pembuangan & macam-macam,” kata Dede di akun X pribadinya dilansir Jumat (2/10/2026).
Eks Komisaris PT Pelni ini mengatakan, para pembenci Jokowi memang tidak bisa berpikir rasional, akal pikiran mereka hanya digunakan untuk mencari cara mencela Jokowi dan orang-orang dekatnya.
Dede mengatakan kelompok ini merupakan barisan sakit hati yang sudah berkali-kali dikalahkan Jokowi dalam berbagai hajatan politik.
“Kalau kebencian karena kalah Pilpres sudah menguasai pikiran, nalar memang gampang jungkir balik. Apa pun posisi Pak Listyo, selalu dicari alasan untuk mencela,” ujarnya.
Pencopotan Listyo Sigit dari jabatan Kapolri memang santer dikait-kaitkan dengan Jokowi, maklum Listyo kerap diasosiasikan sebagai salah satu orang dekat Jokowi yang ditaruh di pemerintahan Prabowo.
Bahkan pencopotan Listyo juga juga dikaitkan dengan perpecahan Pr bowo-Jokowi, isu keretakan mereka memang sedang mengemuka dalam beberapa waktu belakangan ini.
“Setiap pergantian, gerakan pemerintah apapun selalu dihubungkan dgn Solo, sebegitu dahsyat pengaruhnya , sampe tiap hari termehek mehek di temlen,” pungkas Dede.